Ia bahkan kembali melontarkan guyonan soal latar belakang keluarganya. Kiai Hasan menyebut dirinya pernah disebut memiliki kecenderungan Muhammadiyah, tetapi seluruh menantunya berasal dari kalangan NU.
“Saya ini orang bebas. Orang bilang Muhammadiyah agak Wahabi dikit katanya. Tapi menantu saya NU kabeh, Pak. Akhirnya saya mendapat titel baru, Hasan Abdullah Aswabi. Aswaja-Wahabi,” ucapnya.
Menurut Kiai Hasan, sejak awal berdiri, Gontor memiliki komitmen mendidik dan memerdekakan umat serta bangsa dari ketergantungan. Ia mengatakan pendidikan tetap menjadi pilihan utama Gontor dalam berkontribusi bagi Indonesia.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
Prabowo sementara itu dalam sambutannya meminta para santri dan santriwati Gontor untuk meneruskan perjuangan membangun bangsa Indonesia.
“Kalian lah yang akan mengambil alih. Kalian yang akan meneruskan perjuangan kita,” kata Prabowo saat memberikan sambutan.
Prabowo mengatakan para santri dan santriwati Gontor merupakan generasi yang akan melanjutkan perjuangan bangsa pada masa mendatang.
Dia berpesan agar para santri terus memegang nilai-nilai yang telah ditanamkan Gontor serta berbuat yang terbaik bagi bangsa dan umat.
“Teruskan panggilan sejarah. Teruskan perjuanganmu. Berbuat yang terbaik untuk bangsa dan umat,” ujar Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengaitkan perjalanan 100 tahun Gontor dengan cita-cita yang ditanamkan para pendirinya, yakni K.H Ahmad Sahal, K.H Zainuddin Fananie, dan K.H Imam Zarkasyi.
Menurut Prabowo, para pendiri Gontor telah menanamkan cita-cita luhur yang kemudian berkembang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia serta penjuru dunia.
