KETEGANGAN antara Rusia dan Blok Barat kembali mencapai titik didih. Presiden Vladimir Putin secara terbuka melontarkan kecaman keras terhadap apa yang disebutnya sebagai taktik “elit Eropa” yang sengaja menanamkan ketakutan di tengah masyarakat demi menciptakan ancaman khayalan dari Moskow.
Dalam pernyataan terbarunya yang dikutip kantor berita TASS, Putin menegaskan kembali bahwa Rusia sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengancam negara-negara Benua Biru. Menurutnya, Moskow tidak memiliki celah alasan mendasar untuk memicu konfrontasi apa pun dengan Eropa.
Kendati demikian, pemimpin Kremlin tersebut melayangkan garis merah (red line) yang sangat tegas terkait eskalasi konflik di Ukraina. Putin menyatakan secara tersurat bahwa rencana pengiriman pasukan militer oleh sejumlah negara Eropa ke Ukraina akan dibaca sebagai sinyal eskalasi mematikan.
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
“Saat ini, Eropa sedang membicarakan pengiriman pasukan ke Ukraina. Itu berarti konflik dengan Rusia,” tandas Putin.
Sinyal Negosiasi dan Bayang-Bayang Pertemuan Trump
Di tengah memanasnya retorika militer, Moskow tetap membuka pintu diplomasi. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa Rusia pada prinsipnya tetap siap merajut meja perundingan dengan Kyiv, sekaligus menaruh harapan besar terhadap rencana pertemuan trilateral dengan Washington dalam waktu dekat.
Upaya diplomatik ini menyusul langkah intensif Gedung Putih. Sebelumnya pada 10 September, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Putin berkeinginan mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina, seraya membuka opsi pertemuan puncak antara para pemimpin ketiga negara.
Kendati demikian, Moskow menilai situasi di lapangan kian pelik. Dalam wawancaranya dengan surat kabar Izvestia, Peskov mengaku pesimis dapat memprediksi efektivitas pertemuan tingkat tinggi tersebut secara instan di tengah buruknya situasi krisis Ukraina saat ini.
Terkait wacana pertemuan tatap muka antara Putin dan Donald Trump—yang santer dikabarkan bakal dilangsungkan di Tiongkok—Peskov menyebut belum ada kesepakatan final yang diketok. Pihak Kremlin juga menanggapi dingin potensi manuver Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang dinilai berupaya memengaruhi sudut pandang Trump. Moskow meyakini Trump memegang prinsip dan penilaian independen dalam mengelola hubungan diplomatiknya dengan Rusia, sehingga sulit diintervensi pihak lain.
