KELOMPOK Houthi Yaman menyatakan telah menuntaskan penguasaan penuh atas Selat Bab al-Mandeb pada Jumat, 11 September 2026 malam, setelah pasukannya merebut Pulau Mayyun atau dikenal juga sebagai Perim yang terletak di titik tersempit jalur pelayaran strategis tersebut.
“Navigasi maritim aman bagi semua perusahaan, kecuali kapal-kapal Saudi yang memang sudah dilarang sebelumnya,” kata juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Jumat malam, sebagaimana dikutip The Straits Times, Sabtu, 12 September 2026.
Seorang pejabat pemerintah setempat mengonfirmasi jatuhnya pulau itu. “Perahu-perahu yang membawa pejuang bersenjata Houthi mencapai Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah mundur dari sana kemarin,” kata pejabat tersebut, merujuk pada mundurnya pasukan pemerintah pada Kamis, 10 September 2026, sebagaimana dikutip Euronews, Sabtu. Ia menambahkan, “Houthi telah menuntaskan pengambilalihan wilayah Bab al-Mandeb dan Pulau Mayyun, yang terletak di tengah selat.”
Baca Juga:Dokumen Rahasia Pembunuhan JFK: Misteri Lama, Operasi CIA, hingga Terselipnya Nama IndonesiaIdentitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan Pemerintah
Sumber lain yang tidak disebutkan namanya menyampaikan pernyataan senada. “Houthi telah menuntaskan pengambilalihan kawasan Bab al-Mandeb,” kata sumber tersebut kepada kantor berita AFP, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Jumat.
Perebutan Pulau Mayyun—pulau vulkanik kecil dan tandus yang membelah bagian tersempit selat menjadi dua alur pelayaran—terjadi sehari setelah Houthi merebut kota pelabuhan Mokha di pesisir Laut Merah pada Kamis, 10 September 2026, serta mencapai gugusan Kepulauan Hanish di dekatnya pada hari yang sama. Sekitar 12 persen barang dunia biasanya melintasi Selat Bab al-Mandeb di ujung selatan Laut Merah, dan jalur ini sangat penting bagi Arab Saudi, sekutu utama Amerika Serikat, menurut laporan NPR yang terbit Sabtu.
Arab Saudi Tutup Pipa Minyak akibat Serangan Drone
Bersamaan dengan perkembangan di Yaman, Arab Saudi menutup pipa minyak East-West sepanjang 1.200 kilometer setelah jalur vital tersebut diserang drone pada Kamis pagi, 10 September 2026, di wilayah Riyadh dan Madinah. Baik Riyadh maupun Baghdad menyatakan serangan itu berasal dari wilayah Irak, tempat milisi bersenjata dukungan Iran beroperasi.
Arab Saudi menegaskan pihaknya “berhak mengambil segala langkah yang diperlukan” untuk melindungi kepentingannya, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi sebagaimana dikutip Reuters dalam laporan yang terbit hari ini. Riyadh untuk sementara memilih tidak membalas menyusul permintaan Perdana Menteri Irak.
