YAYASAN riset penyelamatan sungai, Ecoton menelusuri penyebab sejumlah ikan mengambang di Kali Surabaya. Mereka menduga pencemaran menjadi alasan hewan itu mati.
Koordinator ronda sungai Ecoton 2026 Jofanny Ahmad Arianto mengatakan total ada empat orang yang melakukan pemantauan di sekitar lokasi ditemukannya ikan mati, Senin (7/9).
Langkah itu, dilakukan setelah menerima informasi munculnya busa di Kali Surabaya, diduga setelah tercampur sisa material pemadaman pabrik di kawasan Driyorejo, Gresik.
Baca Juga:Identitas Baru untuk Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Mulai 20 Oktober, Ini Alasan PemerintahPrabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat Penekan
“Kondisi ini menjadi perhatian, perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut,” kata Jofanny dalam keterangan tertulis.
“Untuk memastikan material yang terbawa dari proses pemadaman berkaitan dengan perubahan kualitas air dan kematian ikan yang ditemukan di Sungai Jagir Wonokromo,” imbuh dia.
Kasus itu disebut mirip dengan yang terjadi di Sungai Jaletreng, aliran Sungai Cisadane, Kota Tangerang Selatan, Banten. Banyak ikan mati terindikasi tercemar limbah kimia gudang pestisida.
“Kejadian tersebut menunjukkan insiden pencemaran di bagian hulu berpotensi memberikan dampak terhadap ekosistem perairan di sepanjang aliran sungai hingga wilayah hilir,” jelasnya.
Jofanny menyebut masih menemukan sejumlah ikan mati dan menunjukkan kondisi tidak normal. Hal itu ditandai dengan pergerakan tak normal saat berada di permukaan air.
“Beberapa jenis ikan yang ditemukan mati antara lain bader bang, bader putih, hampala, dan keting” ujarnya.
Sementara itu, koordinator tim investigasi ikan mati Ecoton, Alaika Rahmatullah menemukan fosfat dan oksigen terlarut di Kali Surabaya tidak memenuhi standar baku mutu.
Baca Juga:Apa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?Heboh Video Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu di Depan Jokowi, Projo Buka Suara
“Konsentrasi fosfat tercatat tinggi, di pintu Air Jagir mencapai 0,6 mg/L atau sekitar tiga kali lipat dari ambang 0,2 mg/L. Lalu di depan stikosa AWS konsentrasinya mencapai 1,2 mg/L atau sekitar enam kali lipat dari baku mutu,” jelas Alaika.
“Jika berlangsung dalam jumlah tinggi, nutrien berlebih dapat memicu pertumbuhan alga dan proses eutrofikasi yang pada kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap penurunan oksigen terlarut” pungkasnya.
