KOTA Salatiga bakal segera memiliki pusaka daerah berupa keris dan tombak yang dirancang sebagai simbol identitas serta jati diri masyarakat setempat. Kehadiran karya tosan aji ini diharapkan tidak sekadar menjadi benda peninggalan, tetapi juga membawa nilai filosofi dan doa bersama bagi warga Salatiga.
Wali Kota Salatiga, Robby, menegaskan pentingnya bagi pemerintah dan masyarakat untuk tidak hanya merawat fisik pusaka, melainkan juga memahami nilai, pengetahuan, serta budaya yang terkandung di dalamnya sebagai warisan leluhur.
“Pelestarian pusaka bukan semata-mata menjaga benda-benda lama agar tetap tersimpan, tetapi bagaimana masyarakat memahami nilai, pengetahuan, filosofi, dan budaya yang ada di dalamnya,” ujar Robby saat menghadiri Pameran Karsa Nusantara bertema Pusaka Salatiga di Rumah Rakyat, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga:Siapa Norman Arie Prayogo? Profil Warek III Unsoed yang Turut Diamankan KPKKorban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah Rusak
Pameran yang digelar oleh komunitas Salatiga Keris Ageman Lestari (Sakral) ini berlangsung hingga Minggu (23/8/2026). Kota Salatiga sendiri menyiapkan dua karya tosan aji, yakni Keris Dhapur Balebang dan Tombak Lambang Cakra. Kedua calon pusaka ini merepresentasikan harapan agar Salatiga senantiasa menjadi kota yang aman, damai, sejuk, toleran, harmonis, dan sejahtera.
Rangkaian pembuatan pusaka ini sejatinya telah dimulai sejak Juli 2026, diawali dengan prosesi jamasan. Setelah itu, proses dilanjutkan dengan tahap penempaan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Ketua Panitia, Empu Ridwan, menyampaikan bahwa momen ini merupakan sejarah baru bagi Salatiga karena masyarakat bisa menyaksikan langsung proses penciptaan pusaka kota. Menariknya, penempaan tidak hanya dilakukan oleh para empu dan budayawan, tetapi juga melibatkan perwakilan seluruh RW serta masyarakat umum secara langsung.
“Terdapat satu momen khusus, yakni Kota Salatiga akan memiliki pusaka sebagai identitas, harapan, dan doa yang akan kami wujudkan dalam bentuk fisik berupa keris dan tombak,” kata Ridwan.
Keterlibatan warga secara luas ini sekaligus memperkuat pesan bahwa pusaka tersebut merupakan milik bersama warga Salatiga, bukan kelompok tertentu.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, pihak DPRD Kota Salatiga juga mengumumkan rencana penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) mengenai Pusaka Kota Salatiga demi memperkuat komitmen pelestarian budaya daerah.
