Peneliti Monash University Indonesia: Ada Dugaan Pola Tertentu untuk Viralkan Video Lama Aksi Demo Mahasiswa

Akun penyebar hoaks demo Foto: (Dok Istimewa)
Akun penyebar hoaks demo Foto: (Dok Istimewa)
0 Komentar

SEJUMLAH video lama terkait demonstrasi mahasiswa sempat diviralkan lagi di media sosial. Peneliti Monash University Indonesia mengungkap ada dugaan pola tertentu untuk menaikkan video lama aksi demo mahasiswa tersebut.

Monash University Indonesia melakukan analisis data terhadap sejumlah platform sosial media selama 26 Juli-1 Agustus 2026. Dari analisis tersebut, ditemukan 197 ribu unggahan di X, Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook terkait demonstrasi.

Ada 63 ribu unique user yang ditemukan. Tren volume puncaknya adalah pada 27 Juli lalu sebanyak 50 ribu unggahan.

Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan

Peneliti Monash University Indonesia Ika Idris mengatakan sejumlah postingan tersebut berisi video lama dan video hasil suntingan terkait demo mahasiswa. Video dibuat seolah aksi terkini.

“Persoalan yang berulang adalah penyebaran disinformasi, khususnya melalui penggunaan video lama atau hasil suntingan yang disajikan seolah-olah rekaman aksi terkini. Praktik ini dikritik karena menyesatkan publik dan berpotensi merusak upaya demonstrasi yang sesungguhnya,” kata Ika Idris kepada wartawan, Rabu (5/8/2026).

Dia juga mengungkap ada pola tertentu untuk membuat video itu viral. Sebagian besar konten video tersebut ternyata hasil retweet. Pola ini mustahil dilakukan secara manual.

“Dari 34.935 unggahan X yang dianalisis, 99,46 persen merupakan retweet. Beberapa akun menunjukkan pola yang hampir mustahil dilakukan secara manual. Sebuah akun, misalnya, melakukan sembilan retweet berbeda dalam waktu sekitar 105 milidetik,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa sejumlah akun lainnya juga melakukan beberapa retweet dengan jeda kurang dari satu detik. Menurutnya, pola ini mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis, atau mekanisme bulk retweet, yang tujuannya memang untuk menaikkan engagement percakapan.

Dia juga mengungkap pola lain untuk memviralkan konten tersebut. Dia mencontohkannya lewat akun-akun tertentu.

“Pola lain yang menonjol adalah struktur seed-and-amplify, yaitu sejumlah kecil akun membuat atau menyebarkan narasi awal, kemudian ribuan akun lain me-retweet-nya. Satu unggahan dari @dieddfish menghasilkan 13.446 retweet atau 38,7 persen dari seluruh retweet. Adapun sepuluh unggahan sumber teratas menyumbang 88,5 persen dari keseluruhan aktivitas,” ujarnya.

Akun Centang Biru dengan Narasi Terkoordinasi

Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul

Selain itu, dia mengilustrasikannya lewat satu akun centang biru X dengan nama @urflowerz. Akun tersebut mengunggah video demo lama. Akun tersebut diduga sengaja melakukan implikasi dengan struktur narasi yang telah terkoordinasi.

0 Komentar