Selain itu, Iran mengutip fatwa Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang menyatakan bahwa kepemilikan maupun penggunaan senjata nuklir bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan negara tersebut.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Duta Besar Republik Islam Iran, Mohammad Boroujerdi, melalui akun X @MoBoroujerdi pada hari yang sama. Dalam unggahannya, Boroujerdi menyatakan bahwa rakyat Iran telah membuktikan kemampuan mereka mempertahankan negaranya tanpa memerlukan senjata nuklir.
“Rakyat Iran telah membuktikan bahwa membela negara mereka tidak memerlukan senjata nuklir. Ketahanan dan tekad mereka berbicara lebih lantang daripada hulu ledak mana pun. Jika ada yang mencari alasan untuk memicu perlombaan senjata nuklir, ini bukanlah alasannya. #StandWithIran #PeaceThroughStrength,” tulisnya.
Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan
Dengan kembali menegaskan sikap tersebut, pemerintah Iran tampaknya berupaya memperkuat posisi diplomatiknya di hadapan masyarakat internasional setelah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Melalui penekanan pada kepatuhan terhadap NPT, pengawasan IAEA, serta fatwa yang melarang senjata nuklir, Iran ingin menunjukkan bahwa program nuklirnya berbeda dengan program pengembangan senjata.
Meskipun di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap menyatakan kekhawatiran bahwa kemampuan teknis Iran dalam memperkaya uranium dapat dimanfaatkan untuk tujuan militer apabila situasi politik berubah.
Iran Tidak Punya Senjata Nuklir
Berikut sejumlah fakta yang dijadikan dasar oleh Iran untuk menyatakan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan negara tersebut memiliki senjata nuklir:
- Intelijen AS menyatakan Iran belum membangun senjata nuklir
Laporan Congressional Research Service (CRS) yang diunggah di laman resmi Parlemen AS mengutip penilaian intelijen AS tahun 2025 yang menyatakan “Iran tidak sedang membangun senjata nuklir”.
Laporan tersebut juga menyebut Pemimpin Tertinggi Iran belum mengaktifkan kembali program senjata nuklir yang dihentikan pada 2003. Ini penting karena berasal dari penilaian resmi komunitas intelijen Amerika Serikat, negara yang selama ini menjadi pihak paling vokal mengkritik program nuklir Iran.
- IAEA tidak menemukan program sistematis pembuatan bom nuklir
Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menyatakan pada Maret 2026 bahwa hingga sebelum inspeksi dihentikan akibat perang, IAEA tidak memiliki informasi yang menunjukkan Iran menjalankan program yang terstruktur dan sistematis untuk membangun senjata nuklir.
