PRESIDEN Prabowo Subianto bertanya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengenai penggunaan kata ‘bajingan’ saat berpidato dalam acara puncak peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas).
Momen ini terjadi ketika Prabowo berbicara ihwal dinamika politik yang diwarnai pertikaian akibat perbedaan pilihan.
Bagi Prabowo, setiap partai politik memiliki kader yang bersifat patriotik. Namun, partai politik juga diisi oleh kelompok yang disebutnya ‘bajingan’.
Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul
“Presiden boleh ngomong bajingan enggak? Boleh? Aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan,” kata Prabowo sembari menunjuk ke arah Menteri Abdul Mu’ti, di Indonesia Arena, kompleks Gelora Bung Karno, kawasan Senayan, Jakarta, pada Ahad, 12 Juli 2026.
Abdul Mu’ti sempat tersorot rekaman kamera yang ditampilkan pada layar di samping kanan dan kiri panggung tempat Prabowo berpidato. Ia terlihat berdiri dari tempat duduknya sambil tertawa.
Prabowo lantas mengatakan bahwa kata ‘bajingan’ yang diucapkan olehnya bukan kata kasar. Ia berdalih pemakaian kata tersebut sebagai bentuk ekspresi semangatnya.
“Boleh enggak? Ini kan tidak termasuk kasar. Bajingan, ya, bajingan. Bajingan bahasa apa itu? Bahasa Betawi, ya,” tutur Prabowo.
Ia kemudian mengimbuhkan, “Saya lahir Betawi, jadi maaf kalau saya semangat, kata-kata Betawi keluar. Sorry ye. Ini hari jadi koperasi atau sudah mulai kampanye ini?”
Adapun dalam pidatonya, Prabowo sempat mengajak seluruh elemen bangsa Indonesia meninggalkan budaya saling memaki, benci, dan saling tidak percaya.
“Marilah kita kembali ke sifat bangsa Indonesia yaitu saling memaafkan, saling mengerti, saling mengasihi, saling membantu, jangan ikut-ikut budaya caci maki, dengki, budaya curiga,” ucap Prabowo.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
Kata eks Menteri Pertahanan ini, sebuah bangsa tak akan mencapai keberhasilan jika masih terjebak dalam pertikaian. Perbedaan latar belakang suku maupun pilihan politik, menurut dia, tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
