“Kehidupan setiap makhluk hidup berada di genggaman tangannya, semua yang ada di alam semesta ini milik-Nya, bahkan napas kita sendiri,” ujarnya, Minggu (12/7).
Menurut Paisy, begitulah Alloh Subhanahu wa ta’ala membuka dan menutup hidup makhluk hidup. “Bagai bunga randa tapak melayang tinggi tertiup angin kencang, meninggalkan sekawannya tanpa berpamitan. Memang ketahuan akan takdir hanya dipegang oleh Sang Maha Kuasa,” ungkapnya.
Dukungan penuh juga datang dari orang tua Putri, Muhammad Sulaiman dan Vita Anggraeni Hadiyani. Mereka mengaku bangga melihat perkembangan putri mereka yang kini aktif menyeimbangkan prestasi akademik dengan dunia literasi.
Baca Juga:Prabowo ke TNI, Polri, dan Jaksa: Bintangmu dari Uang Rakyat!Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut Muncul
“Kami bersyukur dan bangga. Terima kasih kepada semua pihak dan guru pembimbing yang telah memberikan ruang bagi Putri untuk terus mengembangkan bakatnya,” ungkap pihak keluarga.
Terpisah, pegiat literasi DA Setiawan, mengungkapkan perkembangan puisi saat ini dinilai mengalami perubahan signifikan, terutama di kalangan remaja. Perubahan tersebut tidak terlepas dari kemajuan teknologi dan hadirnya berbagai platform digital yang memudahkan publikasi karya sastra.
Ia menilai jangkauan publikasi puisi kini semakin luas karena didukung berbagai media sosial dan portal digital. Kondisi ini membuat penyair muda memiliki lebih banyak ruang untuk menampilkan karya mereka kepada masyarakat.
“Kalau sekarang saya lihat medianya sudah semakin meluas dan melebar jangkauannya, ada berbagai platform media sosial dan portal digital yang memuat puisi,” ujarnya, Minggu (12/7)
Menurutnya, situasi ini sangat berbeda dibandingkan era 1990-an hingga awal 2000-an ketika publikasi puisi masih bergantung pada media cetak. Pada masa tersebut, penyair harus melalui proses seleksi yang ketat sebelum karya mereka dapat diterbitkan.
Ia menjelaskan bahwa meluasnya ruang publikasi juga membawa konsekuensi terhadap kualitas karya yang beredar di masyarakat. Minimnya proses kurasi membuat siapa pun dapat mempublikasikan karya tanpa seleksi yang mendalam.
“Sekarang semua orang bisa mengunggah puisinya tanpa kurasi yang kuat, sehingga secara kuantitas jauh lebih melimpah, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bagus,” katanya.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
Meski demikian, DA Setiawan melihat fenomena ini tetap memiliki sisi positif karena membuka peluang besar bagi remaja untuk mengekspresikan diri melalui puisi. Ia berharap ke depan akan muncul lebih banyak karya berkualitas yang mampu memperkaya khazanah sastra Indonesia.
