Belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom di Damaskus itu. Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan bahwa pasukan keamanan sebenarnya telah menemukan dua alat peledak yang ditempatkan dekat Kementerian Pariwisata dan sedang bersiap untuk menjinakkannya ketika bom tersebut tiba-tiba meledak.
Pemerintah Suriah menyebut bom tersebut dibuat secara sederhana. Salah satu bom disebut ditempatkan di dalam sebuah mobil yang diparkir di pinggir jalan, sedangkan bom lainnya diletakkan di dalam tempat sampah.
Kedua bom tersebut berada di luar zona pengamanan yang dibuat untuk melindungi tempat tinggal Macron sehingga tidak memberikan ancaman langsung terhadap kunjungan presiden Prancis. Setelah kejadian, pasukan keamanan internal melakukan operasi pencarian untuk menemukan pihak yang bertanggung jawab.
Baca Juga:Laporan Intelijen Heboh: Mossad Diduga Sadap Pemerintah AS, Nama Trump Ikut MunculAmanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 Juni
Insiden ini terjadi dalam situasi keamanan Suriah yang masih rapuh setelah lebih dari 13 tahun perang saudara. Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu komandan kelompok yang memiliki hubungan dengan Al-Qaeda, kini berupaya menstabilkan dan membangun kembali Suriah setelah memimpin kelompok pemberontak yang menjatuhkan Assad.
Pemerintah baru Suriah berusaha memperbaiki hubungan dengan negara-negara Barat dan Timur Tengah yang sebelumnya menentang pemerintahan Assad. Namun, ancaman dari kelompok bersenjata masih tetap ada termasuk ISIS yang menjadi musuh Sharaa selama perang saudara.
Sebelumnya, kelompok ekstremis dan militan bersenjata itu telah mengklaim sejumlah serangan terhadap pasukan pemerintah Suriah dan menyatakan dimulainya fase baru operasi melawan pemerintahan Sharaa sejak Februari.
