Prabowo Soroti Kesamaan Visi Indonesia dan Prancis di Tengah Ketidakpastian Global

Tangkapan layar The Atlantico
Tangkapan layar The Atlantico
0 Komentar

PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan alasan mendasar di balik penguatan kemitraan strategis Indonesia dengan Prancis di tengah dinamika geopolitik global. Di saat banyak negara terjebak dalam tarikan kuat persaingan Amerika Serikat dan Cina, Prabowo memandang Prancis sebagai mitra dialog Eropa yang independen dengan kesamaan nilai dalam memperjuangkan perdamaian dunia.

Dalam wawancara eksklusif dengan media Prancis, Atlantico, Prabowo menjelaskan bahwa kedekatan visi kedua negara berakar pada komitmen bersama terhadap hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini tercermin dari kerja sama intensif dua negara dalam isu-isu global, termasuk pengakuan kedaulatan Palestina.

“Kebijakan luar negeri Indonesia berpedoman pada konstitusi kita yang mewajibkan kita untuk membela kebebasan dan perdamaian. Prancis memiliki nilai-nilai yang sama. Itulah mengapa kami mendukung upaya Prancis menuju pengakuan Palestina sebagai negara merdeka,” ujar Prabowo dikutip dari Atlantico, Senin (8/6/2026).

Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz

Lebih lanjut, Prabowo menyoroti bahwa pilihannya untuk memperkuat kemitraan dengan Prancis—yang mencakup sektor pertahanan dan stabilitas Indo-Pasifik—didasari oleh keyakinan akan posisi Prancis sebagai kekuatan otonom.

Di tengah ketidakpastian keamanan global, Prabowo memandang bahwa otonomi strategis Eropa yang didorong oleh Prancis merupakan realitas penting yang harus disinergikan.

“Ini juga mengapa kami memilih untuk memperoleh peralatan pertahanan canggih dari Prancis, Spanyol, dan Italia: kami percaya otonomi strategis Eropa akan terus berlanjut,” tambah Prabowo.

Selain kerja sama pertahanan, Prabowo menekankan bahwa diplomasi Indonesia tetap terbuka kepada negara-negara Eropa lainnya untuk memastikan kemakmuran ekonomi. Meski demikian, dia menegaskan bahwa interaksi dengan negara-negara Eropa harus dilakukan secara individual mengingat keberagaman kepentingan nasional di benua tersebut.

“Eropa bersatu dalam visi kemakmurannya. Itulah yang memungkinkan kami menyelesaikan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-UE tahun lalu. Tetapi Eropa tetaplah, pada akhirnya, sebuah persatuan dari 27 negara. Masing-masing negara memiliki kepentingan dan prioritas nasionalnya sendiri. Itulah mengapa kami terlibat dengan negara-negara Eropa utama secara individual,” ujar Prabowo.

Sebagai informasi, wawancara ini dilakukan oleh Jean-Sebastien Ferjou, direktur pemberitaan Atlantico, yang kemudian diterbitkan dalam artikel dengan judul “Prabowo Subianto : l’art de l’équilibre dans un monde en feu. Interview exclusive avec le président indonésien—Prabowo Subianto: Seni Menjaga Keseimbangan di Tengah Dunia yang Membara, Wawancara eksklusif dengan presiden Indonesia.”

0 Komentar