Menurut pejabat Kementerian Pertahanan Korut, Pyongyang akan mengembangkan langkah-langkah militer dan teknologi pertahanan, baik yang bersifat simetris maupun asimetris, sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai penumpukan senjata oleh negara-negara musuh.
Korut juga menyatakan akan mempercepat pengembangan kemampuan pertahanan diri dan sistem penangkal strategis guna menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan.
Pyongyang menilai peningkatan belanja senjata dan transfer persenjataan oleh negara-negara yang dianggap bermusuhan tidak akan efektif dalam mengubah posisi strategis Korea Utara.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
Pernyataan terbaru dari Korut muncul di tengah meningkatnya dinamika keamanan di Asia Timur, terutama terkait penguatan aliansi pertahanan antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.
Sejumlah pengamat menilai peningkatan kerja sama militer tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap program rudal dan nuklir Korea Utara yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Pada sisi lain, Pyongyang memandang langkah tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya sehingga terus mendorong penguatan kemampuan militer sebagai bentuk penyeimbang.
