UNITED Nations Children’s Fund (UNICEF) pada Hari Jumat mengungkapkan, rata-rata 11 anak tewas atau terluka setiap hari di Lebanon sepekan terakhir, seiring dengan perluasan serangan Israel di seluruh negeri.
Mengutip angka dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, juru bicara UNICEF Ricardo Pires mengatakan kepada wartawan di Jenewa, total 77 anak telah tewas atau terluka dalam tujuh hari terakhir, dengan 15 tewas dan 62 terluka.
“UNICEF menggambarkan jumlah korban ini sebagai hal yang mengejutkan,” katanya, melansir Anadolu(29/5).
Baca Juga:Menkeu Amerika Serikat Umumkan Rampas Aset Kripto Iran Senilai Rp17,8 TriliunPulau Katang di Kepri Viral Dijual Rp65 Miliar, Pemerintah Buka Suara
“Kami memahami bahwa sebagian besar anak-anak ini terkena dampak serangan udara di Lebanon Selatan,” kata Pires.
Korban terbaru termasuk tujuh anak tewas dan 30 terluka pada hari Kamis saja, tambahnya.
Pires mengatakan, korban anak terus berlanjut meskipun gencatan senjata diumumkan pada pertengahan April, dengan 55 tewas dan 212 terluka.
UNICEF mengulangi seruannya kepada semua pihak untuk sepenuhnya menghormati gencatan senjata dan mematuhi hukum humaniter internasional.
“Berdasarkan hukum humaniter internasional, anak-anak dan infrastruktur sipil harus dilindungi setiap saat,” kata juru bicara tersebut.
Badan tersebut juga menyerukan agar organisasi kemanusiaan diberikan akses yang aman, tepat waktu, dan tanpa hambatan ke semua daerah yang terdampak, khususnya di Lebanon selatan, untuk memberikan bantuan yang menyelamatkan jiwa.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Lebanon pada Hari Kamis mengatakan jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret telah meningkat menjadi 3.324, dengan 10.027 lainnya terluka, dikutip dari Qatar News Agency.
Baca Juga:Marketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata MendagKemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark
Dalam sebuah pernyataan, Pusat Operasi Darurat kementerian menjelaskan, angka-angka tersebut mencerminkan dampak kumulatif dari permusuhan yang sedang berlangsung di seluruh negeri.
Pasukan Israel terus melakukan operasi di Lebanon selatan meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 16 April dan diperpanjang untuk kedua kalinya pada 15 Mei selama 45 hari tambahan.
Kekerasan yang terus berlanjut telah memicu peringatan tentang memburuknya kondisi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut.
