PARTAI Demokrat Amerika Serikat kini berada di persimpangan jalan yang krusial. Dalam pertemuan puncak kepemimpinan Jewish Democratic Council of America di Washington baru-baru ini, para tokoh senior partai mulai berhati-hati dalam menavigasi perdebatan besar yang mengguncang internal mereka yaitu dukungan tradisional terhadap Israel versus meningkatnya simpati pemilih terhadap Palestina.
Pergeseran dramatis dalam sentimen pemilih Demokrat terhadap Israel membentuk dinamika pemilihan pendahuluan (primary) pada siklus pemilu kali ini. Sejumlah politisi memperingatkan bahwa kritik keras dari sayap kiri terhadap Israel terkadang berisiko tergelincir menjadi antisemitisme, yang berpotensi menjauhkan pemilih Yahudi.
Pergeseran Opini Publik yang Signifikan
Dukungan terhadap hubungan AS-Israel yang selama puluhan tahun bersifat bipartisan kini menghadapi ujian terberat. Data jajak pendapat NBC News awal tahun ini menunjukkan 57% pemilih Demokrat memiliki pandangan negatif terhadap Israel, melonjak tajam dari 35% pada tahun 2023.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Selain itu, jajak pendapat Gallup mencatat sejarah baru dalam 20 tahun terakhir. Untuk pertama kali, warga Amerika–terutama dari kalangan Demokrat dan independen–lebih bersimpati kepada Palestina dibandingkan Israel. Pergeseran ini didorong oleh ketidakpuasan mendalam terhadap kampanye militer Israel di Gaza dan kemitraan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Donald Trump.
Statistik Kunci:
- 57% pemilih Demokrat memandang negatif Israel (Data 2026).
- Dua pertiga pemilih Demokrat lebih bersimpati kepada Palestina (Naik dari 18% pada 2013).
- Lebih dari selusin anggota parlemen Demokrat kini menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida.
Upaya Menjaga Keseimbangan Politik
Mantan Ketua DPR Nancy Pelosi, dalam pidatonya di hadapan dewan Yahudi, mengutip puisi Israel untuk menegaskan bahwa perbedaan pendapat dengan pemimpin politik Israel tidak boleh melemahkan dukungan terhadap negara tersebut. “Saya tidak akan diam karena negara saya berubah wajah,” ujar Pelosi. Ia menyiratkan bahwa kritik terhadap kepemimpinan Netanyahu merupakan hal yang wajar tanpa harus meninggalkan komitmen terhadap keamanan Israel.
Namun, di lapangan, tantangan semakin nyata. Kelompok progresif terus menekan kandidat mereka untuk mengambil posisi tegas. Di Pennsylvania, legislator Chris Rabb menyatakan bahwa dana pajak warga AS tidak seharusnya digunakan untuk mendukung sesuatu yang ia sebut sebagai genosida, dan lebih baik diinvestasikan untuk komunitas domestik.
