OTORITAS Penerbangan Sipil Iran mengumumkan penutupan sementara wilayah udara di atas Iran bagian barat pada Sabtu(23/5/2026) waktu setempat.
Kebijakan tersebut diambil seiring dengan adanya laporan jika militer Amerika Serikat (AS) tengah bersiap untuk memulai serangan baru terhadap Iran di tengah upaya diplomatik tak langsung antara kedua negara untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Dalam sebuah pernyataan, lembaga tersebut menyampaikan bahwa seluruh izin penerbangan sipil telah ditangguhkan di bandara-bandara yang terletak di sektor barat Wilayah Informasi Penerbangan (Flight Information Region) Teheran.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Saat ini, hanya delapan bandara di seluruh negeri yang tetap beroperasi, termasuk Bandara Mehrabad dan Bandara Imam Khomeini di Tehran, serta bandara di Isfahan dan Yazd, lapor Gulf News.
Di bandara-bandara yang masih beroperasi tersebut, penerbangan bahkan dibatasi hanya pada siang hari antara matahari terbit hingga matahari terbenam. Selain itu, maskapai penerbangan diwajibkan untuk mendapatkan persetujuan baru dari Otoritas Penerbangan Sipil untuk setiap jadwal penerbangan.
Kebijakan ketat tersebut diberlakukan di tengah meningkatnya ketegangan regional dan kembali mencuatnya spekulasi mengenai kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Axios dan CBS News melaporkan pada Jumat bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan serangan baru terhadap Iran. Spekulasi mengenai potensi kembalinya konflik ini semakin menguat setelah Presiden Donald Trump mengubah jadwal akhir pekannya untuk tetap berkantor di Washington.
CBS melaporkan, militer AS sedang mempersiapkan diri untuk potensi serangan terhadap Iran pada akhir pekan ini, meskipun keputusan akhir belum diambil. Menurut laporan Axios, Trump mengumpulkan para penasihat terdekatnya pada Jumat pagi untuk membahas perkembangan terkait konflik dengan Iran.
Tak lama setelah pertemuan tersebut, Presiden AS mengumumkan bahwa ia batal menghadiri pernikahan putranya, Donald Trump Jr., di New Jersey. Ia memilih untuk tetap berada di Washington demi apa yang ia sebut sebagai “urusan negara”.
Laporan-laporan terkait persiapan militer ini muncul justru di saat upaya diplomatik sedang diintensifkan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Panglima militer Pakistan, yang bertindak sebagai mediator antara Amerika Serikat dan Iran, telah bertolak ke Teheran pada Jumat sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengupayakan solusi politik.
