PULUHAN ribu warga turun ke jalan di London, Inggris untuk berpartisipasi dalam demonstrasi besar-besaran bertajuk “Unite the Kingdom”, Sabtu (16/5).
Peserta demo hingga penyelenggara adalah tokoh sayap kanan Tommy Robinson. Dia menyampaikan seruan seruan konservatifnya.
“Jutaan orang harus pergi,” kata Robinson, merujuk ke jutaan imigran di Inggris yang harus pergi, dikutip CNN.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Februari lalu, teriakan “kirim mereka kembali” juga bergema di terowongan bawah tanah London yang lembap saat ratusan demonstran sayap kanan anti-Islam bersiap untuk berpawai melalui jalan-jalan.
Bendera Union Jack berkibar tertiup angin saat para demonstran, beberapa di antaranya tampak mabuk, meneriakkan serangkaian slogan anti-imigrasi dan komentar mengejek Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Ini adalah demonstrasi yang diselenggarakan oleh Britain First, sebuah partai politik sayap kanan yang menyerukan deportasi massal dan pengusiran migran serta Muslim dari Inggris.
Apa penyebabnya?
Ada yang mengaitkan demo anti-imigran Muslim di Inggris dengan dua kasus. Menurut organisasi yang mendata Islamofobia, Tell Mama (Measuring Anti-Muslim Attacks) insiden anti-Muslim meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dua tahun lalu.
Penyebabnya, invasi Israel ke Gaza dan setelah tiga anak tewas ditikam dan 10 orang lainnya terluka dalam insiden penikaman massal di Southport, Merseyside, pada 2024 silam.
Serangan penikaman itu terjadi di sebuah acara bertema Taylor Swift di sebuah sekolah tari di Southport. Tiga anak perempuan yakni Bebe King (6 tahun), Elsie Dot Stancombe (7 tahun), dan Alice Dasilva Agular (9 tahun)meninggal dunia.
Dalam laporannya, organisasi itu mengatakan telah terjadi “lonjakan retorika yang dengan keliru menggambarkan Muslim sebagai teroris atau simpatisan teroris” menyusul pecahnya konflik Israel-Gaza dan pembunuhan Southport.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
Seorang juru bicara pemerintah menyebut temuan tersebut “sangat mengkhawatirkan” dan mengatakan akan “berupaya memberantas kebencian dan rasisme anti-Muslim di mana pun itu terjadi.”
Tell Mama mengatakan bahwa perubahan tersebut mencerminkan “dampak yang mendalam dari stereotip berbahaya yang memicu perpecahan masyarakat dan memperkuat gagasan salah tentang identitas Muslim”, seperti dikutip dari BBC.
Sementara menurut Max Mumford, ahli Geopolitik dan Hubungan Internasional dari Universitas Amsterdam menyebutkan, krisis migran tahun 2015 di Eropa, yang menyaksikan masuknya pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika, memperluas kecemasan tentang identitas nasional, persaingan ekonomi, dan keamanan nasional.
