Ketidakpuasan ekonomi semakin memicu dukungan terhadap gerakan sayap kanan. Banyak pemilih, khususnya di wilayah yang mengalami deindustrialisasi dan pedesaan, merasa tertinggal oleh meningkatnya keterkaitan globalisasi.
Krisis ekonomi dua dekade terakhir, termasuk krisis keuangan 2008 dan langkah-langkah penghematan berikutnya, memperburuk ketidaksetaraan dan memperdalam kebencian terhadap partai-partai politik arus utama.
Partai-partai sayap kanan mengeksploitasi ketidakpuasan ini dengan menampilkan diri sebagai pendukung nasionalisme ekonomi, berjanji untuk memprioritaskan kebutuhan warga negara asli di atas lembaga internasional dan kebijakan internasionalis pasar bebas.
Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat
Para pemimpin sayap kanan telah berhasil memanfaatkan frustrasi ini dengan memposisikan diri mereka sebagai orang luar yang bersedia menantang kemapanan politik.
Referendum Brexit di Inggris Raya mencontohkan dinamika ini, karena kampanye Leave, yang didukung oleh retorika tokoh-tokoh yang terkait dengan sayap kanan seperti Steven Yaxley-Lennon (Tommy Robinson) atau Nigel Farage, menggambarkan Uni Eropa sebagai birokrasi yang tidak bertanggung jawab yang merusak kedaulatan Inggris.
Meskipun partai Reform UK di Inggris telah mengalami kesulitan elektoral dalam beberapa tahun terakhir, karena berbagai faktor, seperti sistem pemilihan mayoritas sederhana (first past the post) atau kurangnya kepercayaan terhadap individu secara umum, sentimen anti-kemapanan yang lebih luas yang memicu Brexit tetap menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam politik Eropa dan Inggris. Hal ini dapat dilihat melalui sejumlah kampanye Euroskeptis dari negara-negara anggota Uni Eropa.
