OBROLAN via telepon antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan berlangsung tegang. Trump dan Netanyahu disebut berselisih paham tentang bagaimana kelanjutan Perang Iran akan berlangsung.
Menukil CNN, pembicaraan itu terjadi pada Selasa (19/5/2026). Netanyahu telah mengungkapkan rasa frustrasinya kepada Trump karena ia ingin AS memulai kembali serangan ke Teheran.
Sebelumnya, pada Minggu (17/5), Presiden AS dan PM Israel itu dilaporkan telah berkomunikasi via sambungan telepon. Dalam komunikasi ini, Trump menyebut akan kembali menyerang Iran pada awal pekan dan menggelar operasi militer baru yang disebut berjuluk Operasi Sledgehammer.
Baca Juga:Fatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas MencuatSMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di Kalbar
Akan tetapi, dalam 24 jam setelah komunikasi, keduanya kembali mengadakan pembicaraan. Kali ini Trump menyebut telah menunda rencana serangan baru ke Iran atas permintaan sekutu di Teluk. Semula, serangan dilaporkan akan dilancarkan pada Selasa.
Penundaan ini sejalan dengan keterangan publik Trump pada Rabu (20/5) pagi. Kepada wartawan, ia menyebut bahwa “negosiasi dengan Iran” telah “berada di tahap akhir”.
“Kita akan mencapai kesepakatan, atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit kasar, tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi,” katanya.
Pernyataan itu dilaporkan terjadi setelah Trump dan Netanyahu berselisih paham pada Selasa. Dalam komunikasi selama satu jam via telepon, Netanyahu dikabarkan telah mendesak Trump untuk kembali melakukan serangan.
Trump, di sisi lain, tak suka dengan desakan itu. Presiden AS itu ingin melihat terlebih dahulu apakah kesepakatan dapat tercapai sebelum melakukan aksi militer baru.
Selisih paham terlihat dalam pernyataan Trump pada Rabu. Ketika ditanya perihal pembicaraan dengan Netanyahu pada Selasa, Trump menjawab dengan menekankan bahwa ia adalah pihak yang memegang kendali dalam pembicaraan itu.
“Dia [Netanyahu] akan melakukan apa pun yang saya inginkan,” kata Trump.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Sementara itu, desakan Netanyahu agar pertempuran kembali dilanjutkan disebut juga jadi sentimen yang meluas di kalangan elite Israel. Mereka disebut frustrasi karena Trump terus membiarkan apa yang mereka sebut sebagai penundaan diplomatik Iran dan menginginkan serangan baru segera dilakukan.
