Ebola Kembali Mengganas di Kongo, 65 Orang Dilaporkan Tewas

Petugas kesehatan memakai pakaian pelindung saat bertugas di pusat perawatan Ebola di Beni, wilayah timur Demo
Petugas kesehatan memakai pakaian pelindung saat bertugas di pusat perawatan Ebola di Beni, wilayah timur Democratic Republic of the Congo, dalam wabah Ebola tahun 2019. Kongo kembali menghadapi lonjakan kasus Ebola yang memicu kekhawatiran penyebaran lintas negara di Afrika. (Foto: Jérôme Delay/AP Photo)
0 Komentar

PUSAT Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengonfirmasi munculnya wabah Ebola baru di Republik Demokratik Kongo yang telah menewaskan sedikitnya 65 orang.

Wabah tersebut terjadi di Provinsi Ituri, wilayah terpencil di timur laut Kongo, dengan total 246 kasus dugaan infeksi yang tercatat hingga saat ini.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat waktu setempat, Africa CDC menyebut empat kematian telah terkonfirmasi melalui uji laboratorium.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

“Kasus dugaan juga telah dilaporkan di Bunia dan masih menunggu konfirmasi,” demikian pernyataan Africa CDC, dikutip dari Euronews, Sabtu, 16 Mei 2026.

Bunia merupakan ibu kota Provinsi Ituri yang berbatasan langsung dengan Uganda.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan virus Ebola terdeteksi pada 13 dari 20 sampel yang diuji. Meski identifikasi lanjutan masih dilakukan, otoritas kesehatan menyatakan strain tersebut bukan varian Zaire yang dikenal memiliki tingkat kematian sangat tinggi.

Risiko Penyebaran Lintas Negara

Ebola merupakan penyakit langka namun mematikan yang menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh, seperti darah, muntahan, maupun cairan tubuh lainnya.

Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya memperingatkan tingginya risiko penyebaran lintas negara akibat mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan perbatasan.

“Mengingat tingginya pergerakan penduduk antara daerah terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting,” ujar Kaseya.

Ia mengatakan Africa CDC kini bekerja sama dengan pemerintah Kongo, Uganda, Sudan Selatan, serta sejumlah mitra internasional untuk mempercepat pengendalian wabah.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Sebagai langkah darurat, Africa CDC telah menggelar pertemuan dengan otoritas kesehatan regional dan lembaga internasional guna memperkuat dukungan laboratorium, pengendalian infeksi, hingga mobilisasi sumber daya medis.

Masyarakat juga diminta segera melapor apabila mengalami gejala dan menghindari kontak langsung dengan pasien yang dicurigai terinfeksi.Wabah Baru di KongoWabah terbaru ini menjadi pukulan baru bagi Kongo setelah wabah Ebola sebelumnya baru dinyatakan berakhir sekitar lima bulan lalu dengan total 43 kematian.

Sejak pertama kali ditemukan pada 1976, ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang terjadi di Republik Demokratik Kongo. Pada periode 2018–2020, wabah Ebola di Kongo timur pernah menewaskan lebih dari 1.000 orang.

0 Komentar