Yusril Tegaskan Pemerintah Tak Larang Film ‘Pesta Babi’, tapi Beri Catatan Keras

Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra (IST)
Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra (IST)
0 Komentar

MENTERI Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, buka suara soal pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’. Yusril menegaskan pemerintah tidak pernah mengeluarkan kebijakan melarang pemutaran ataupun nobar film tersebut.

Pembubaran itu terjadi di beberapa kampus dengan penyelenggara yang berbeda-beda. Di antaranya, Universitas Khairun (Unkhair), Ternate; Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), NTB; kemudian Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Tak hanya di universitas, nobar film ‘Pesta Babi’ yang digelar di kafe Seminyak dan Tabanan juga dibubarkan.

Yusril bicara adanya persoalan administrasi di balik pembubaran itu. Nyatanya, kata Yusril, kampus di Bandung dan Sukabumi nobar film ‘Pesta Babi’ berjalan lancar tanpa hambatan.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

“Tidak semua kampus melarang pemutaran film dokumenter tersebut. Di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, nobar film itu dilarang karena persoalan prosedur administratif saja. Sementara di kampus lain di Bandung dan Sukabumi, nobar film tersebut berjalan tanpa halangan apa pun,” ujar Yusril dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/5/2026).

Yusril menegaskan pembubaran atau penghentian nobar film itu bukan merupakan arahan dari pemerintah ataupun aparat penegak hukum secara terpusat.

“Melihat pola demikian, pembubaran nobar film ‘Pesta Babi’ bukanlah arahan dari pemerintah ataupun aparat penegak hukum yang biasanya terpusat,” katanya.

Film dokumenter tersebut berisi kritik terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan yang dianggap mengganggu kelestarian alam, hak ulayat masyarakat Papua, dan lingkungan hidup. Yusril menganggap wajar adanya kritik tersebut.

“Saya menganggap kritik semacam itu wajar saja, walaupun memang terdapat narasi yang provokatif. Judul film dokumenter itu sendiri memang kontroversial. ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ tampak bersifat provokatif,” ujarnya.

Catatan Yusril

Yusril mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing hanya karena judul film yang dinilainya sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik. Ia menambahkan bahwa pemerintah juga dapat mengambil pelajaran dari kritik yang disampaikan melalui film tersebut.

“Tetapi tentu orang tidak boleh terpancing dan bereaksi hanya karena judul provokatif yang mungkin sengaja dibuat produsernya untuk menarik perhatian. Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat. Dengan demikian publik menjadi kritis, pro dan kontra dapat terjadi,” katanya.

0 Komentar