NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin melemah. Pada perdagangan Jumat (15/5/2026), rupiah berada di level Rp17.600 per dolar AS.
Mengutip data Google Finance, rupiah kini bergerak di level Rp17.598 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong memprediksi rupiah akan melemah hingga level Rp18.000 per dolar AS.
Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini, kemungkinan besar Rp18.000 akan tembus. Kalau seandainya Rp18.000 tembus di bulan Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp22.000,” ujar Lukman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Lukman mengatakan pelemahan mata uang Garuda dipicu kondisi geopolitik yang memanas antara AS dan Iran di Timur Tengah sehingga menguatkan indeks dolar AS. Dia menyebut untuk menstabilkan nilai rupiah maka bank sentral harus menaikkan suku bunga.
“Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah. Memang dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia, apakah tetap pertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga. Tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini, pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga,” ucap dia.
Meskipun nilai mata uang rupiah melemah, Lukman menyebut fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.
“Walaupun rupiah terus mengalami pelemahan, tetapi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup bagus karena 90% obligasi yang membeli adalah domestik,” jelasnya.
