Kemenkes Jelaskan: Hantavirus di Indonesia Beda dengan yang Serang Kapal MV Hondius

Ilustrasi: hantavirus
Ilustrasi: hantavirus
0 Komentar

KEMENTERIAN Kesehatan Rl memastikan hingga Senin (11/5/2026) kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan strain Andes belum terdeteksi di Indonesia. Kasus HPS strain Andes menjadi sorotan internasional setelah dilaporkan menyerang kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik.

Adapun kasus yang terkonfirmasi di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus. Kemenkes mencatat, sepanjang 2024-2026 ada 23 kasus konfirmasi positif hantavirus tipe HFRS dengan strain Seoul Virus.

Secara medis, infeksi Hantavirus dapat memicu dua sindrom utama yakni HPS dan HFRS. Untuk mengetahui lebih detail mengenai perbedaan HPS dan HFRS, berikut penjelasannya:

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

Merujuk laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), sindrom HPS biasanya ditemukan di belahan bumi barat termasuk di Amerika Serikat. Hantavirus yang paling umum menyebabkan HPS di Amerika Serikat disebarkan oleh tikus rusa.

HPS secara umum tidak menular antarmanusia, kecuali yang disebabkan oleh strain Andes seperti yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Penularannya bisa terjadi melalui kontrak erat dan berkepanjangan, droplet pernapasan dalam waktu lama, hingga dalam kasus yang jarang terjadi melalui paparan cairan tubuh atau luka.

HPS adalah penyakit serius dan berpotensi mematikan yang menyerang paru-paru. Gejala HPS biasanya mulai muncul 1 hingga 8 pekan setelah kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.

Gejala awal HPS meliputi kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan kadang bahu. Sekitar setengah dari seluruh pasien HPS juga mengalami sakit kepala, pusing, menggigil, serta gangguan perut seperti mual, muntah, diare, dan nyeri perut.

Empat hingga sepuluh hari setelah fase awal penyakit, muncul gejala tahap lanjut, meliputi batuk dan sesam napas. Pasien dapat merasakan dada terasa sesak karena paru-paru terisi cairan.

HPS dapat berakibat fatal. Sekitar 38 persen pasien yang mengalami gejala gangguan pernapasan dapat meninggal akibat penyakit ini.

Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS)

Ini disebut juga demam berdarah dengan sindrom ginjal, yaitu sekelompok penyakit yang secara klinis serupa yang disebabkan oleh hantavirus yang sebagian besar ditemukan di Eropa dan Asia. Namun, Seoul Virus yakni jenis hantavirus yang menyebabkan HFRS, ditemukan di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat. HFRS dengan strain Seoul virus yang ditemukan di Indonesia tidak menular antar manusia.

0 Komentar