Media Inggris Bongkar Hubungan Trump-Netanyahu Retak Serius

Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
0 Komentar

Paradoksnya, Iran—berbeda dengan Israel—merupakan penandatangan Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons dan fasilitas nuklirnya berada di bawah pengawasan internasional, meski kerja samanya kerap diperdebatkan. Sementara itu, fasilitas nuklir Israel tetap berada di luar sistem pengawasan global mana pun.

Satu-satunya kebocoran besar dalam tembok kerahasiaan ini terjadi pada 1986, ketika teknisi Israel Mordechai Vanunu membocorkan informasi dan foto dari dalam reaktor Dimona kepada surat kabar Sunday Times. Tindakannya berujung pada penculikan oleh Mossad dan hukuman penjara selama 18 tahun.

Saat ini, estimasi mengenai ukuran arsenal nuklir Israel bervariasi. Stockholm International Peace Research Institute memperkirakan sekitar 80 hulu ledak nuklir, sementara sejumlah analisis lain menyebut angka yang bisa mencapai ratusan, meski tetap sulit diverifikasi karena minimnya transparansi resmi.

Dilema hukum bantuan militer

Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

Sikap keras pemerintahan AS dalam menjaga “rahasia terbuka” ini bukan semata pertimbangan diplomatik, melainkan juga terkait persoalan hukum yang kompleks.

Para analis menilai, pengakuan resmi AS atas kepemilikan senjata nuklir oleh Israel dapat memicu berlakunya undang-undang domestik yang melarang pemberian bantuan keamanan kepada negara yang memiliki senjata nuklir namun tidak tunduk pada sistem pengawasan internasional.

Jika itu terjadi, pemerintahan Trump akan menghadapi kewajiban hukum untuk menghentikan bantuan militer kepada Israel, atau mencari celah melalui “pengecualian presiden” dan justifikasi khusus di hadapan Kongres.

Di balik layar, pemerintahan Trump juga dilaporkan mengkhawatirkan doktrin nuklir Israel. Dalam konteks perang kawasan yang terus berlangsung, muncul skenario yang mengkhawatirkan terkait kemungkinan penurunan ambang penggunaan senjata nuklir.

Doktrin keamanan Israel memandang konflik regional sebagai ancaman eksistensial. Hal ini membuka kemungkinan penerapan apa yang dikenal sebagai “Opsi Samson”—yakni penggunaan kekuatan destruktif besar sebagai jalan terakhir untuk menghindari kekalahan.

Kekhawatiran ini meningkat setelah serangan rudal Iran pada Maret 2026 yang menghantam kota Dimona dan Arad, dekat fasilitas nuklir utama Israel, sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel terhadap program nuklir Iran, sebagaimana dilaporkan The Washington Post.

0 Komentar