Namun kenyataannya, berbagai prediksi tersebut tidak terbukti. Pemerintah Iran tetap bertahan, tidak terjadi gelombang pemberontakan besar, dan Teheran justru mampu melakukan serangan balasan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
Iran juga disebut berhasil mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang berdampak pada terganggunya rantai pasok energi dunia dan memicu tekanan ekonomi global.
Kecewa
Seiring berjalannya waktu, Trump dilaporkan mulai merasa perang berubah menjadi beban politik dan strategis bagi pemerintahannya. Menurut laporan itu, sejak akhir Maret hubungan kedua pemimpin mulai mengalami ketegangan lebih terbuka.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Pemerintah AS perlahan mengurangi keterlibatan Israel dalam sejumlah komunikasi penting terkait negosiasi dengan Iran. Situasi ini membuat para pejabat Israel terpaksa mengandalkan jalur intelijen mereka sendiri untuk mengetahui perkembangan diplomasi yang sedang berlangsung.
Trump juga mulai melontarkan kritik terbuka terhadap Netanyahu, terutama setelah Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran.
Dalam langkah yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, Trump bahkan menyampaikan melalui media sosial bahwa Israel “dilarang” melanjutkan serangan terhadap Lebanon.
Pernyataan itu dipandang sebagai teguran langsung kepada Netanyahu di tengah meningkatnya tekanan internasional akibat perang yang terus meluas.
Menurut The Guardian, Trump kini ingin segera mengakhiri konflik sebelum kunjungannya ke Beijing dan pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping.
Namun perang yang awalnya mempererat hubungan Trump dan Netanyahu justru kini berubah menjadi ancaman politik bagi keduanya.
Netanyahu menghadapi tekanan besar di dalam negeri dan kemungkinan pemilu yang dapat mengakhiri karier politiknya.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Di sisi lain, Trump khawatir dampak perang akan memengaruhi stabilitas politik dalam negeri Amerika Serikat serta peluang elektoralnya pada pemilu mendatang.
Dalam penutup laporannya, Borger mengutip pernyataan Alon Pinkas yang menyebut bahwa Trump dan Netanyahu “saling merugikan satu sama lain.”
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana perang yang awalnya menjadi titik temu kepentingan politik kedua pemimpin kini justru berpotensi menjadi beban besar yang mengancam masa depan mereka sendiri.
Pemerintahan Amerika Serikat kini menghadapi sebuah paradoks strategis yang jelas. Di satu sisi, Washington dan Tel Aviv tengah menjalankan perang terhadap Iran dengan dalih menghancurkan program nuklirnya.
