Terungkap Alasan Israel di Balik Konflik Timur Tengah, 'New Middle East' Benjamin Netanyahu

Ilustrasi Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel
Ilustrasi Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel
0 Komentar

PETA “Timur Tengah Baru” yang diangkat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2023—yang sepenuhnya menghapus keberadaan Palestina—dinilai bukan sekadar pertunjukan politik.

Menurut Sekretaris Jenderal Gerakan Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, peta tersebut justru menjadi awal nyata dari berbagai ketegangan yang kini melanda kawasan Timur Tengah, bahkan sebelum terjadinya Operasi “Badai Al-Aqsa”.

Barghouti menilai langkah itu sebagai deklarasi niat awal dari proyek Zionis ekspansionis yang melampaui batas geografis Palestina.

Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

Dia menyebut rencana tersebut berkaitan erat dengan Dokumen Keamanan Nasional Amerika Serikat yang diterbitkan pada Desember 2025.

Dokumen itu, menurutnya, secara jelas menunjukkan keinginan Washington menjadikan Israel sebagai “agen keamanan” utama di kawasan guna mengendalikan sumber energi dan jalur perdagangan internasional tanpa perlu kehadiran militer AS secara langsung dan mahal.

Dalam konteks yang sama, Barghouti juga menyinggung pernyataan kontroversial Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang dalam sejumlah pernyataan publik disebut tidak hanya mendukung kebijakan Israel, tetapi juga menggambarkan visi Israel Raya sebagai visi Taurat Yahudi dan hak yang sah. Huckabee bahkan menyebut Tepi Barat dengan istilah Yudea dan Samaria.

Menurut Barghouti, yang paling mencolok adalah tidak adanya kritik atau penolakan dari pemerintah AS maupun Kementerian Luar Negeri terhadap pernyataan-pernyataan tersebut.

Hal itu, katanya, menunjukkan adanya dukungan diam-diam, bahkan kemitraan nyata, dalam mendukung ideologi Zionis yang bertumpu pada ekspansi dan dominasi kawasan.

“Israel sedang diarahkan untuk berubah dari sekadar negara perbatasan menjadi imperium regional dengan dukungan penuh Amerika Serikat,” kata dia, kepada Aljazeera, dikutip Ahad (10/5/2026).

Barghouti mengatakan, proyek Zionis bergerak dengan strategi menyingkirkan kekuatan-kekuatan besar di kawasan agar tidak ada pesaing regional bagi Israel.

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Menurutnya, negara-negara yang menjadi sasaran strategi itu adalah Irak, Suriah, Iran, dan Turki.

Dia menilai proses tersebut dimulai dengan penghancuran Irak dan menjadikannya arena konflik berkepanjangan, kemudian melemahkan Suriah hingga keluar dari peta kekuatan regional.

0 Komentar