AUDIT forensik narasi menemukan pola lama yang berulang: dari kelemahan prosedur hingga pertarungan perebutan kebenaran di ruang publik. Sidang pekan ini menjadi pertaruhan legitimasi peradilan militer.
Audit forensik atas narasi dakwaan Andrie Yunus menemukan pola lama yang berulang: celah prosedur yang menganga hingga perebutan kebenaran di ruang publik. Sidang pekan ini menjadi pertaruhan legitimasi peradilan militer.
Demikian pernyataan pengamat Intelijen Bondhan W oditur militeryang lebih dulu mempublikasikan analisis mendalam melalui akun @MasWibiX
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
.”Celah prosedural ini nyata dan terlalu bising untuk diabaikan,” ujar Bondhan W, Selasa (5/5).
Bagi Bondhan, persidangan di Pengadilan Militer Jakarta bukan sekadar soal penyiraman cairan korosif terhadap Wakil Koordinator KontraS itu. Ia melihatnya sebagai sebuah teater informasi di mana narasi sedang diadu sebelum palu hakim sempat diketuk.
Perebutan Otoritas Epistemik
Bermula dari konferensi pers TAUD yang videonya viral, Airlangga Julio dengan repetisi yang terukur mengunci persepsi publik: dakwaan Oditurat Militer “tidak cermat, tidak jelas, tidak lengkap”. Menurut Bondhan W, TAUD sedang menjalankan operasi narasi tingkat tinggi. “Mereka melakukan perebutan otoritas epistemik,” katanya. Dengan mengutip Petunjuk Administrasi Oditurat Militer 2009 dan Pasal 75 KUHAP Baru, TAUD memosisikan diri lebih memahami aturan internal institusi ketimbang Oditurat sendiri.
Glitches dalam Logika Dakwaan
Namun, bahan bakar utama narasi ini justru berasal dari dakwaan itu sendiri yang penuh lubang.Lubang paling mencolok adalah soal kronologi. Dalam dakwaan, empat terdakwa disebut mulai berdinas di BAIS TNI pada November 2025, namun diklaim sudah mengenal Andrie Yunus sejak Maret 2025 di Hotel Fairmont.
“Bagaimana mungkin seorang prajurit mengenal target delapan bulan sebelum ia resmi masuk ke unit intelijen tersebut?” tanya Bondhan.
Kelemahan itu semakin kentara dengan absennya bukti forensik yang kuat: tidak ada keterangan ahli kimia yang menganalisis komposisi “aki bekas dan pembersih karat”, minimnya bukti digital motif dendam, serta inkonsistensi jumlah pelaku. TAUD mengklaim ada 16+ pelaku lapangan berdasarkan 34 rekaman CCTV, sementara dakwaan hanya menetapkan empat orang.
