MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengakui bahwa pernyataannya soal pemindahan posisi kereta khusus perempuan usai tragedi tabrakan KA Argo Bromo dan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, kurang tepat.
Dia menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya kepada seluruh masyarakat serta pada korban yang merasa tersakiti atas pernyataannya tersebut.
“Saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” kata Arifah melalui unggahan video di akun Instagram KemenPPPA, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Dia mengatakan tak bermaksud untuk mengabaikan keselamatan para penumpang lainnya. Arifah juga menyadari bahwa dalam kondisi duka seperti ini, fokus utama adalah keselamatan dan penanganan korban, serta empati kepada keluarga.
“Semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu baik perempuan maupun laki-laki. Saat ini prioritas utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka,” ujar Arifah.
Kata Arifah, KemenPPPA juga berkomitmen untuk memberikan pendampingan psikologis dan dukungan yang diperlukan terutama bagi anak dan keluarga korban yang mengalami trauma atas kejadian ini.
“Mari kita bersama-sama memusatkan perhatian pada penanganan korban, doa, serta upaya perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi,” tutur Arifah.
Diketahui, seluruh korban kecelakaan kereta ini adalah perempuan. Pasalnya kereta paling belakang KRL yang ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek merupakan kereta khusus perempuan. Sebagaimana diketahui, kereta paling belakang dan depan KRL memang dikhususkan untuk penumpang perempuan.
Usai kejadian yang mengakibatkan 16 orang meninggal dunia ini, Arifah mendorong PT Kereta Api Indonesia untuk memindahkan posisi kereta khusus wanita ke bagian tengah rangkaian kereta, sementara paling depan dan belakang diberikan untuk penumpang laki-laki.
Arifah menyampaikan hal tersebut usai melayat ke rumah duka almarhumah Nuryati di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026) yang merupakan salah satu korban kecelakaan kereta api jarak jauh dan KRL di Bekasi Timur.
