KORLANTAS Polri menggunakan teknologi metode Traffic Accident Analysis (TAA) untuk menyelidiki kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat.
Berdasarkan penyelidikan sementara, KA Argo Bromo melaju dengan kecepatan 110 km/jam sebelum tabrak KRL.
Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, mengatakan kecelakaan bermula saat taksi Green SM mengalami masalah kelistrikan dan berhenti di perlintasan kereta. Kemudian, taksi itu tertemper KRL.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Akibat dari permasalahan kendaraan tersebut, terjadilah tabrakan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan tersebut dan mengganggu proses perjalanan kereta api-kereta api yang lain,” kata Sandhie kepada wartawan, Selasa (28/4/2026).
Kecelakaan itu menyebabkan kerugian material dan mengganggu perjalanan KRL lainnya dari arah berlawanan. Saat KRL lain masih tertahan di stasiun, datang KA Argo Bromo hingga berujung tabrakan.
“Karena perjalanan kereta api lainnya terganggu, KRL yang menunggu proses evakuasi, mungkin akibat kurangnya koordinasi ataupun informasi, tidak mampu memberikan informasi menyeluruh ataupun akurat kepada kereta api Argo Bromo Anggrek. Di mana ketika itu sedang melintas dengan kecepatan 110 kilometer per jam,” ucap Sandhi.
“Akibat kurangnya informasi dan koordinasi tersebut, terjadilah tabrakan di Stasiun Bekasi Timur lebih tepatnya yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia,” imbuhnya.
Kecelakaan itu terjadi pada Senin (27/4) malam. Total korban tewas akibat kecelakaan itu berjumlah 15 orang. Selain itu, ada puluhan orang yang terluka.
“Iya, 15 meninggal,” kata Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Martinus Ginting di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I Pusdokkes Polri (RS Polri), Jakarta, Selasa (28/4).
