PERUSAHAAN layanan transportasi Green SM menyampaikan duka mendalam atas insiden yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur dan menimpa sejumlah korban. Green SM menyatakan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Kami menyampaikan duka mendalam serta belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang terdekat dari para korban. Kami menaruh perhatian atas insiden ini dan berharap seluruh pihak yang terlibat segera pulih serta berada dalam kondisi aman,” demikian pernyataan resmi Green SM melalui unggahan Instagramnya, Selasa (28/4/2026).
Green SM menyatakan insiden tersebut saat ini masih dalam proses investigasi dan belum terdapat kesimpulan resmi dari pihak berwenang.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Perusahaan juga menegaskan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dengan menyampaikan informasi yang relevan serta mendukung jalannya investigasi.
“Keselamatan dan transparansi tetap menjadi prioritas utama kami,” tulis perusahaan tersebut.
Green SM menyatakan berkomitmen menjaga standar operasional yang ketat guna mendukung keselamatan pengemudi, penumpang, dan masyarakat.
Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur masih mengidentifikasi sebanyak 10 kantong jenazah korban kecelakaan antara kereta rel listrik (KRL) Commuter Line dan kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4) malam.
“Betul, ada 10 kantong jenazah yang kami terima di RS Polri,” kata Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Pol. Prima Heru Yulihartono saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Seluruh jenazah kini tengah menjalani proses identifikasi oleh tim forensik. Proses tersebut dilakukan guna memastikan identitas para korban sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
“Kantong-kantong jenazah yang kami terima sedang diidentifikasi,” ujar Prima.
Menurutnya, kantong jenazah mulai tiba di RS Polri pada Selasa pagi sekitar pukul 03.00 WIB.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Namun, hingga saat ini proses identifikasi belum rampung. Tim Disaster Victim Identification (DVI) masih bekerja untuk mencocokkan data sebelum kematian (ante mortem) dan setelah kematian (post mortem) guna memastikan identitas korban secara akurat.
Prima belum merinci identitas korban maupun jumlah yang telah berhasil dikenali. Seluruh proses masih berlangsung dan membutuhkan waktu.
Pihak RS Polri mengimbau keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya untuk menunggu hasil identifikasi resmi dari tim DVI guna menghindari kesalahan dalam proses pengenalan jenazah.
