KETEGANGAN geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah terus mempertebal kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pangan. Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global.
Bahkan Rusia telah menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa (BRICS) sebagai langkah antisipatif atas meningkatnya risiko krisis.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia mencatatkan perkembangan yang signifikan di sektor ketahanan pangan nasional. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak Bulog berdiri, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Capaian tersebut baru merupakan satu lapisan dari gambaran utuh ketahanan pangan Indonesia. Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton. Selain itu, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun.
Ketiga lapisan ketersediaan tersebut menjadi fondasi utama yang memastikan kebutuhan pangan Indonesia tercukupi hingga 11 bulan ke depan. Capaian ini merupakan hasil dari visi dan kebijakan yang telah diletakkan sejak awal pemerintahan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna pada Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan arah kebijakan pangan nasional.
“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang akan rela melepas pangannya ke luar negeri. Ini adalah hukum sejarah,” ucap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (15/4).
Ia menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah antisipatif jauh sebelum tekanan global menguat, sesuai arahan langsung Presiden Republik Indonesia.
“Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Amran.
Amran menyampaikan bahwa posisi cadangan pangan saat ini merupakan cerminan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario krisis global.
