Media Era Hindia Belanda Soroti Lebaran: Kebisingan, Pemborosan dan Ucapan Slamat Tahun Baru

Potret suasana perayaan Lebaran di masjid di Kwitang, Batavia, terbit di koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal
Potret suasana perayaan Lebaran di masjid di Kwitang, Batavia, terbit di koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal 07-12-1937.(Sumber foto: delpher.nl)
0 Komentar

Keramaian masih berlanjut pada esok pagi, berupa upacara meriah untuk mengumumkan Hari Raya Lebaran sudah berakhir.

Koran De Preanger-bode tanggal 9 Juni 1921 menceritakan suasana perayaan Lebaran secara lebih rinci. Di sana, jalan-jalan ramai sejak pagi. Warga berkumpul di masjid sejak pukul setengah enam pagi hingga pukul delapan pagi untuk salat dan berdoa dengan khusyuk.

Bupati kemudian mengumumkan berakhirnya puasa pada masyarakat di depan pejabat asisten residen di Pendopo, lalu diakhiri dengan saling memberi selamat. Jamuan pun digelar bagi masyarakat yang hadir.

Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan

Pemandangan kota terlihat semarak. Warga yang lalu-lalang mengenakan pakaian terbaiknya untuk saling berkunjung pada tetangga dan kerabatnya. Tentu saja kembang api dan petasan berdentum sepanjang hari menambah semarak suasana.

“Hari yang menyenangkan. Sebagian besar kantor dan toko tutup, tetapi di mana-mana ada hiruk pikuk dan pergerakan, dan orang-orang Eropa juga telah keluar untuk menyaksikan berbagai ekspresi penduduk,” tulis De Preanger-bode, 9 Juni 1921.

Koran De Preanger-bode tanggal 22 Juni 1921 menceritakan keramaian pesta rakyat di Alun-Alun saat perayaan Lebaran. Di sana digelar berbagai permainan rakyat seperti sodoran, panjat pinang, jahit ring, mencabut koin dalam jeruk, balap karung, dan banyak lagi. Anak-anak bersenang-senang sepanjang hari.

Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie? tanggal 5 Maret 1930 merekam tradisi mudik saat Lebaran. “Kereta terakhir Weltevreden, yang terdiri dari tidak kurang dari lima belas gerbong penumpang, telah mengirim ratusan orang berkerumun di kota kami untuk menghabiskan dua hari libur mereka,” tulis koran tersebut.

Diceritakan juga hotel-hotel menyiapkan berbagai konser yang digelar di ruang dansa. Restoran-restoran tak mau kalah, dengan menyajikan tari-tarian menemani pengunjungnya. Bioskop pun berebut penonton dengan menyajikan film-film pilihan.

Perbedaan perayaan Hari Raya Lebaran, yang kerap berselisih sehari, selalu saja berulang di setiap Ramadan. Perbedaan terjadi karena umat Islam menentukan jatuhnya Lebaran dengan pengamatan hilal yang bisa saja berbeda di setiap tempat.

Koran De Preanger-bode tanggal 4 Mei 1923 misalnya menceritakan umat Islam di Bandung merayakan Lebaran pada 17 Mei, sementara di Weltevreden (Batavia) orang merayakannya pada 18 Mei.

0 Komentar