Media Era Hindia Belanda Soroti Lebaran: Kebisingan, Pemborosan dan Ucapan Slamat Tahun Baru

Potret suasana perayaan Lebaran di masjid di Kwitang, Batavia, terbit di koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal
Potret suasana perayaan Lebaran di masjid di Kwitang, Batavia, terbit di koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal 07-12-1937.(Sumber foto: delpher.nl)
0 Komentar

Tentu saja kembang api, mercon, dan petasan yang diperdengarkan di mana-mana.

Pendopo menjadi pusat keramaian Hari Raya Lebaran. Alun-alun yang ada di depannya berisi penuh dengan lautan manusia. Masyarakat sengaja berkumpul menyaksikan dari kejauhan upacara perayaan Hari Raya Lebaran yang diselenggarakan di pendopo kediaman bupati.

Dalam upacara tersebut, bupati menemui asisten residen, pejabat pemerintah Belanda setempat untuk memberitahukan akan mengumumkan secara resmi bahwa bulan puasa telah berakhir, dan Lebaran yang jatuh di hari pertama bulan Sawal telah tiba.

Baca Juga:Inisiatif Putra Presiden Prabowo Temui Megawati dan Jokowi Tedukan Dinamika Politik, Waketum PAN: Momen TepatJumlah Setoran Uang Judi Sabung Ayam Diduga Pemicu 3 Polisi Tewas Ditembak Oknum TNI di Way Kanan

Bupati yang datang bersama penghulu dan seluruh pejabat pribumi diiringi barisan tentara selanjutnya mengumumkannya.

Bupati duduk di kursi utama pendopo. Semua pengiringnya mengikuti duduk di lantai di belakang bupati dalam urut-urutan mengikuti jabatannya. Asisten residen kemudian bangkit berdiri dan berpidato dalam bahasa Melayu, yang kemudian dibalas oleh bupati.

Jabat tangan dan ucapan selamat kemudian dipertukarkan. Sampanye diedarkan di antara orang-orang Eropa dan pejabat pribumi sambil diperdengarkan gamelan. Selanjutnya giliran masyarakat menemui bupati. Dimulai dengan patih, bergiliran. Berjalan menghampiri dengan membungkuk, menyembah, dan selanjutnya keluar dengan berjalan nyaris merangkak, dikutip dari De Preanger-bode, 10 Januari 1902.

Hari Raya Lebaran adalah hari libur dan keramaian. Koran De Preanger-bode tanggal 10 Desember 1903 menceritakan kesibukan di Passaabaroe (kini Pasar Baru) di Bandung menjelang perayaan Hari Raya Lebaran.

Warga tumpah ke pasar untuk berbelanja kain sarung baru. Tak jarang pedagang memanfaatkannya dengan menaikkan harga, tak jarang banyak yang terpaksa menggadaikan hartanya demi tampil lebih menarik di hari Lebaran.

Pada Hari Raya Lebaran keramaian berpusat di Alun-alun. Th. E. Stufken., pemimpin redaksi De Preanger-bode, menulis kesannya tentang suasana Lebaran di Bandung di korannya yang terbit tanggal 13 September 1918.

“Setiap tahun dengan Lebaran, Aloon-aloon mengadakan sodoran (turnamen), dengan segala macam permainan rakyat. Semua pejabat asli kabupaten datang ke Bandung,” tulis Th. E. Stufken, dikutip dari De Preanger-bode, 13 September 1918.

Baca Juga:Tom Lembong: 100 Persen Semua Izin Impor Diterbitkan Kemendag Ditembuskan KemenperinPasang Boks Tambahan Tampung Barang Bawaan Saat Mudik Lebaran, Tips Bagi Pengendara R2

Th. E. Stufken menceritakan pertunjukan tari digelar pada malam hari. Minuman dan makanan disediakan gratis bagi semua orang. Tentu saja orang-orang menyalakan kembang api yang banyak.

0 Komentar