Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Semburkan Abu Vulkanik dan Terekam Selama 4 Menit 45 Detik

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Semburkan Abu Vulkanik dan Terekam Selama 4 Menit 45 Detik
Pantauan Gunung Anak Krakatau pada Kamis (8/10/2026).(Badan Geologi)
0 Komentar

GUNUNG Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan melontarkan letusan pada Kamis (8/10/2026) sore. Erupsi tersebut tercatat berlangsung selama lebih dari empat menit.

Berdasarkan laporan dari Badan Geologi Kementerian ESDM, letusan terjadi pada pukul 18.28 WIB. Meskipun tinggi kolom abu letusan tidak dapat teramati secara visual, aktivitas vulkanik itu terekam dengan jelas melalui seismogram.

“Telah terjadi erupsi G. Anak Krakatau, Lampung pada tanggal 08 Oktober 2026 pukul 18:28 WIB namun tinggi kolom letusan tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi sementara ini ±4 menit 45 detik,” tulis Badan Geologi dalam keterangan resminya, Kamis (8/10/2026). Hingga laporan tersebut diterbitkan, aktivitas erupsi dilaporkan masih terus berlangsung.

Status Waspada dan Larangan Mendekati Kawah

Baca Juga:Google Buka Akses Publik Global ke SynthID Detector untuk Verifikasi Konten AIMoskow Bantah Keras Isu Wabah Pes Tewaskan Teknisi Lab Siberia, Amerika Serikat Ikut Pantau

Dengan adanya peningkatan aktivitas ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level II (Waspada). Pihak berwenang, termasuk Badan Geologi dan aparat kepolisian seperti Polda Banten, secara tegas meminta masyarakat, nelayan, maupun wisatawan agar tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 2 kilometer.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sempat mencatat adanya tren penurunan aktivitas vulkanik pada gunung api tersebut. Kendati demikian, pihak PVMBG menegaskan bahwa penurunan aktivitas tidak serta-merta menghentikan ancaman erupsi susulan.

Pemantauan 24 Jam dan Ancaman Abu Vulkanik

Hingga saat ini, PVMBG terus mengawasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau selama 24 jam penuh. Evaluasi berkala terus dikoordinasikan dengan pemerintah daerah serta instansi terkait.

Selain ancaman material pijar di sekitar kawah, sebaran abu vulkanik juga menjadi perhatian utama karena sangat bergantung pada arah angin yang dapat berubah sewaktu-waktu. Pemantauan sebaran abu dilakukan secara terpadu bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta stasiun pemantau di Australia.

Langkah mitigasi ini krusial mengingat abu vulkanik berpotensi membahayakan jalur penerbangan di wilayah sekitar Selat Sunda hingga Samudra Hindia.

0 Komentar