KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) memberikan penjelasan komprehensif terkait perbincangan publik mengenai virus influenza A(H3N2) subklad K yang kerap diasosiasikan dengan istilah “superflu”.
Berdasarkan data surveilans terbaru hingga minggu ke-36 tahun 2026, subklad K dipastikan bukanlah jenis influenza yang paling dominan beredar di Indonesia saat ini.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, memaparkan bahwa secara kumulatif tercatat sebanyak 184 kasus infeksi subklad K sejak pertama kali terpantau pada 2025 hingga saat ini.
Baca Juga:Siapa Agus Sulaiman Mantan Polisi yang Divonis Mati? Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Mahasiswi UMMKantor dan Rumah Jabatan Bupati Gowa Digeledah Kortas Tipidkor Polri Terkait Dugaan Korupsi Perizinan PBG
Dari jumlah tersebut, sebagian besar atau sebanyak 162 kasus ditemukan sepanjang tahun 2025, sementara 22 kasus sisanya terdeteksi sepanjang periode Januari hingga pekan ke-36 tahun 2026.
“Total data yang saya punya, 2025 itu 162. Nah, 2026 sampai dengan minggu lalu itu 22 yang memang terdeteksi dari pemeriksaan lab masuk ke subtipe K ini,” ujar Aji.
Berdasarkan pemetaan wilayah, sebaran kumulatif kasus tersebut kini telah mencakup 20 provinsi, dengan konsentrasi terbanyak berada di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
Bukan Jenis yang Dominan dan Tidak Ada Bukti Lebih Berbahaya
Meskipun menjadi sorotan global, data pemeriksaan laboratorium Kemenkes menunjukkan bahwa subklad K bukan varian yang paling banyak ditemukan saat ini. Dalam laporan mingguan terbaru, dari 85 sampel positif influenza yang diuji, varian influenza A(H1N1)pdm09 justru mendominasi temuan, diikuti oleh sebagian kecil A(H3N2) konvensional dan influenza B Victoria.
Secara keseluruhan, tingkat aktivitas influenza di Indonesia per minggu ke-37 masih dikategorikan dalam tingkat yang rendah dan situasi epidemiologis dinilai terkendali.
Kemenkes juga menegaskan bahwa istilah “superflu” bukanlah nama resmi dalam dunia medis maupun nomenklatur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Secara ilmiah, subklad K merupakan bagian dari evolusi alami virus influenza musiman A(H3N2)—yang berkerabat dekat dengan subklad J.2.4—dan bukan jenis virus baru yang terpisah.
Hingga saat ini, otoritas kesehatan nasional maupun global menyatakan belum ada bukti sahih yang menunjukkan bahwa infeksi subklad K memicu keparahan penyakit yang lebih berat dibanding jenis influenza musiman lainnya.
