GUNUNG Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus pada 4-6 September 2026. Gunung api aktif yang berada di perairan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra ini tercatat mengalami erupsi selama sekitar 25 jam, disertai semburan lava air mancur, lontaran material vulkanik, serta suara gemuruh.
Episode erupsi tersebut memang telah berhenti, namun aktivitas vulkanik belum dianggap selesai dan potensi erupsi susulan masih tinggi, sehingga status Gunung Anak Krakatau saat ini masih tetap Level III (Siaga).
Erupsi ini berdampak pada sebaran abu vulkanik yang menyebabkan delapan bandara ditutup hingga Senin (7/9/2026) pagi.
Baca Juga:Prabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat PenekanApa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?
Penutupan sementara mencakup delapan bandara di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatera Selatan yang berdampak pada ribuan penerbangan.
Peta Lokasi Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau terletak di kawasan Selat Sunda, Indonesia, tepatnya di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Secara administratif, Gunung Anak Krakatau termasuk wilayah Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.
Gunung api ini merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Krakatau dan berada di kawasan Cagar Alam Krakatau yang dilindungi serta dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung Selatan.
Letaknya yang berada di perairan Selat Sunda membuat Gunung Anak Krakatau memiliki karakter geografis yang khas, karena aktivitas vulkaniknya berlangsung pada sebuah pulau yang dikelilingi laut dan relatif terisolasi dari daratan utama.
Secara geologis, keberadaan Gunung Anak Krakatau tidak dapat dipisahkan dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan tersebut menyebabkan sebagian besar tubuh Pulau Krakatau runtuh dan berubah menjadi kaldera yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut.
Pulau Rakata, yang merupakan sisa bagian selatan Gunung Krakatau, kehilangan sekitar dua pertiga tubuhnya di bagian barat laut, termasuk wilayah yang sebelumnya ditempati oleh Gunung Perbuwatan dan Gunung Danan. Bagian yang hilang kemudian menjadi wilayah laut dangkal.
Dari lingkungan kaldera inilah aktivitas vulkanik baru kemudian berkembang hingga melahirkan Gunung Anak Krakatau.
Fakta-Fakta Erupsi Gunung Anak Krakatau
Berikut fakta-fakta penting tentang erupsi Gunung Anak Krakatau:
