BMKG Pasang 20 Tsunami Gauge di Sekitar Selat Sunda Deteksi Perubahan Muka Laut Antisipasi Tsunami

Gunung Anak Krakatau. foto/https://magma.vsi.esdm.go.id/img/crs/VEN_KRA20220422175408.png
Gunung Anak Krakatau. (foto/https://magma.vsi.esdm.go.id/img/crs/VEN_KRA20220422175408.png)
0 Komentar

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasang 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda. Langkah ini guna mendeteksi perubahan muka laut sekaligus mengantisipasi potensi tsunami seiring dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala BMKG, Dwikorta Karnawati, menegaskan pemantauan Gunung Anak Krakatau penting. Dia mengungkap, salah satu skenario yang diwaspadai dari peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau adalah flank collapse atau runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut -seperti yang sebelumnya pernah terjadi dan memicu tsunami di Selat Sunda pada 2018 lalu.

“Kemudian terkait potensi tsunami, kami telah memasang 20 tsunami-gauge yang tersebar di sekitar area Selat Sunda,” paparnya dalam rapat pemantauan penanganan gempa di NTT, aktivitas Gunung Anak Krakatau, serta perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui konferensi video, Senin (7/9/2026).

BMKG Pastikan Belum Ada Anomali Muka Air Laut

Baca Juga:Prabowo Kritik Dinamika Geopolitik Global Kerap Jadi Instrumen Perdagangan Internasional Sebagai Alat PenekanApa Maksud Fadia Arafiq Bupati Pekalongan Nonaktif Ini Paparkan Harta Kekayaan di Persidangan?

Dwikorta menjelaskan, pemantauan dilakukan secara berlapis, dengan menggabungkan data tsunami gauge, seismograf, radar, hingga instrumen pemantauan atmosfer dan kelautan. Beruntung, hingga pemantauan terakhir, BMKG belum menemukan anomali muka laut yang mengindikasikan akan adanya tsunami di Selat Sunda.

“Sampai saat ini tidak ada anomali kenaikan muka air laut akibat tsunami yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau,” tuturnya.

Selain tsunami gauge, BMKG juga mengoperasikan High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung dalam mode pemantauan tsunami. Data per 7 September 2026 menunjukkan probabilitas tsunami berada pada kategori rendah, di bawah 50 persen.

Meski demikian, BMKG tidak menurunkan kewaspadaan. Aktivitas Anak Krakatau masih dipantau secara intensif untuk melihat perubahan karakter erupsi maupun potensi bahaya turunannya.

Kewaspadaan terhadap flank collapse menjadi salah satu alasan pemantauan laut terus dilakukan. Ancaman tersebut berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa bumi karena runtuhnya material gunung api ke laut dapat memindahkan volume air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

“BMKG terus berkoordinasi dengan Ditjen Perhubungan Laut untuk kondisi perairan. Telah diterbitkan juga Notice to Mariners, intinya ada pelarangan aktivitas kapal dalam radius 3 km dari kawah Gunung Anak Krakatau selama status level 3 atau Siaga,” jelas Dwikorta.

0 Komentar