Budi Arie Duduk Bareng Jokowi: Insting Saya Perubahan Bisa Lebih Cepat dari 2029!

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi bersama Presiden ke-7 Joko Widodo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (
Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi bersama Presiden ke-7 Joko Widodo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (24/8/2026) (Istimewa)
0 Komentar

KETUA Umum (Ketum) Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, membeberkan analisis mengenai potensi “percepatan sejarah” atau akselerasi dinamika politik nasional sebelum Pemilu 2029. Pernyataan itu diungkapkan oleh Budi Arie secara langsung di hadapan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu diketahui dari sebuah video viral di media sosial (medsos) yang kemudian diunggah oleh Guru Besar Hukum Tata Negara Denny Indrayana melalui akun pribadi Instagram miliknya, @dennyindrayana99.

Dalam video tersebut, Budi Arie mengungkapkan instingnya bahwa situasi politik tanah air berpotensi bergerak lebih cepat di luar skenario konvensional pemilu lima tahunan. Ia pun mengimbau para relawan untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan alternatif.

Baca Juga:Siapa Norman Arie Prayogo? Profil Warek III Unsoed yang Turut Diamankan KPKKorban Tewas Gempa M 7,4 Kolombia Kini 111 Orang 1.575 Rumah Rusak

“Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau, kita masih ngomong pemilu 2029-pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?” kata Budi Arie yang langsung disambut seruan “siap” dari para peserta.

Lantas, Budi Arie mengaitkan analisisnya dengan kondisi sosial-ekonomi saat ini serta adanya riak-riak aspirasi di beberapa daerah. Ia kemudian memberikan contoh sejarah pada masa transisi kekuasaan tahun 1998, ketika dinamika politik memaksa terjadinya percepatan pemilu dari yang seharusnya dijadwalkan pasca-1997 menjadi tahun 1999.

“Saya pengalaman dengan gerak sejarah. Ini ada anomali di masyarakat saat ini. Ini ada demo Pati, Madura ikut demo tandingan. Ah ini sudah kayak Pam Swakarsa ’98 nih. Pasti kalah yang preman,” ucap Budi Arie.

“Sebab maksud saya terjadi anomali-anomali, variabel di masyarakat yang membuat kita tidak hanya memikirkan skenario konvensional, langkah-langkah tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya. Itu terjadi yang menurut pendapat saya terjadi patahan sejarah. Gimana tahun ’97 tiba-tiba pemilu berikutnya tahun 1999,” ungkapnya.

Menurut dia, potensi percepatan pemilu tersebut ada. “Potensi itu bukan tidak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” ujar Budi Arie.

“Insting saya ini ada sesuatu yang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Karena itu saya mau membuka wacana saja teman-teman. Supaya berpikir jangan hanya berpikir 2029, harus ada pikiran lain alternatif apabila terjadi percepatan jalan,” ujarnya.

0 Komentar