Kepala Badan Gizi Nasional Ungkap Kasus Keracunan MBG Satu Keluarga

Badan Gizi Nasional (BGN)
Badan Gizi Nasional (BGN)
0 Komentar

KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono mengungkap kasus keracunan Makan Begizi Gratis (MBG) yang menimpa satu keluarga. Kasus keracunan ini terjadi lantaran seorang siswa membawa MBG yang diterimanya ke rumah.

Sudaryono menjelaskan, pemberian MBG tersebut telah tepat saji dan harus dimakan segera. Namun siswa terkait justru membawa MBG tersebut untuk dikonsumsi bersama keluarga di luar saran pengajian.

“Dapurnya ya kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, ya. Benar itu jam 9, jam 10, dan bener dari mulai selesai masak sampai dimakan itu ya, bener. Tapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain. Sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya tapi termasuk anggota keluarga yang mengkonsumsi makanan itu,” ungkap Sudaryono di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Baca Juga:Kebakaran Rumah di Cirebon, Ayah dan Bayi Laki-laki Usia 6 Bulan Ditemukan TewasKasus Kematian Sutrimo: Fakta, Dugaan Kepala Urusan Rumah Tangga Febrie, dan Perkembangan Penyelidikan

Sudaryono mengaku, ketentuan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan BGN. Pihaknya juga telah menunjuk guru yang berperan sebagai Person in Charge (PIC) atau penanggungjawab untuk melakukan edukasi kepada siswa penerima manfaat MBG.

BGN juga memberikan insentif kepada guru yang berperan sebagai PIC MBG agar tidak mengganggu jam mengajar di sekolah. Bahkan, Sudaryono menyebut guru PIC ini juga menjadi bagian dari penerima manfaat MBG.

“Jadi di sekolah itu sudah ada namanya PIC yang sudah ada insentifnya. Jadi guru di sekolah itu tidak terganggu mengajarnya karena Makan Bergizi. Bahkan guru itu kemudian juga menjadi bagian dari penerima manfaat MBG dalam tujuannya adalah untuk mengedukasi siswa-siswanya,” terangnya.

Sudaryono mengatakan, PIC ini berperan unruk mengedukasi siswa terkait tata krama, cuci tangan, menyusun ompreng, hingga menjelaskan kandungan gizi. Peran ini harapkan memberi pemahaman kepada siswa terkait makanan yang bisa dibawa pulang.

“Edukasi terkait tata kramanya, mengantrinya, cuci tangannya, ya, kemudian nyusun omprengnya, berdoanya, bersyukurnya, dan lain-lain. Termasuk juga menjelaskan kandungan gizinya dan mencegah tadi itu, yang ini jangan dibawa pulang, yang ini gitu. Jadi kita ke depan ini kita berusaha untuk bagaimana fungsi-fungsi edukasi ini betul-betul secara konsekuen itu kita terapkan,” terang Sudaryono.

0 Komentar