Ia mencontohkan peristiwa 1997-1998 ketika El Niño kuat terjadi bersamaan dengan IOD positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, perkembangan IOD positif dapat dipantau melalui perubahan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa dan Sumatra. Pendinginan yang semakin kuat di kawasan tersebut umumnya berkaitan dengan meningkatnya risiko kekeringan.
Dwi mengatakan sejumlah model prediksi saat ini menunjukkan peluang berkembangnya El Niño pada akhir 2026 dengan kecenderungan berada pada kategori kuat hingga sangat kuat.
Baca Juga:Amanat Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 Resmi BPIP, Lengkap untuk 1 JuniDraft Tak Resmi Rancangan Kesepakatan Iran-Amerika Serikat Bocor, Teheran Disebut Dapat Kendali Selat Hormuz
Maka karena itu, berbagai langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak dini, antara lain melalui pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta penguatan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
“Persiapan harus dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan. Yang penting adalah memastikan informasi iklim dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi,” ujar dia.
