Namun, strategi memantik sumbu bom di Timur Tengah ini ibarat senjata makan tuan yang berisiko tinggi.
Bagi Trump, jika serangan di Selat Hormuz gagal total, hal itu justru akan menjadi peluru emas bagi oposisi untuk membuktikan bahwa Trump telah menyeret AS ke dalam perang yang tidak berguna.
Sementara bagi Netanyahu, agresi ini justru menyatukan kubu oposisi Israel. Penggabungan kekuatan antara Yair Lapid dan Naftali Bennett kini menjadi momok mengerikan yang siap menumbangkan rezim Netanyahu.
Baca Juga:Marketplace Asing Bakal Wajib Punya Kantor Perwakilan di RI, Ini Kata MendagKemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi Denmark
Hingga saat ini, situasi di jalur logistik minyak dunia Selat Hormuz masih berada dalam status “tegang dan membeku”.
Ambisi Trump dan Netanyahu untuk mendongkrak popularitas lewat jalur perang masih jauh dari panggang api, sementara bom waktu pemilu terus berjalan.
