Rupiah Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Kemenperin Sarankan Skema Baru untuk Impor

Ilustrasi: nilai tukar rupiah (IST)
Ilustrasi: nilai tukar rupiah (IST)
0 Komentar

PELAN tapi pasti, nilai tukar rupiah terus melemah hingga ke level Rp17.803 per dolar AS saat penutupan Selasa (26/5). Ambruknya rupiah ini tentu saja sangat dirasakan kalangan pengusaha, khususnya mereka yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan terhadap industri nasional, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor. Pemerintah pun mulai mendorong pelaku industri mengurangi ketergantungan terhadap transaksi dolar AS.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, sekitar 24 persen struktur bahan baku industri nasional, berasal dari impor. Kondisi ini membuat biaya produksi rentan naik ketika rupiah mengalami tekanan hebat seperti saat ini.

Baca Juga:Kemendiktisaintek Selidiki Dugaan Pemalsuan Riset 3 WNI di Konferensi DenmarkLuhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RI

“Struktur input industri, terutama bahan baku, sebesar 24 persen adalah impor. Selain krisis di Selat Hormuz, saat ini, kita mengalami pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Febri di Jakarta, dikutip Rabu (27/5/2026).

Untuk mengatasinya, kata Febri, pemerintah mendorong penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) diperluas. Khususnya untuk transaksi bahan baku impor. Artinya, transaksi impor bahan baku dilakukan dengan mata uang lokal alias masing-masing negara, bukan menggunakan dolar AS yang nilainya tinggi.

“Kita mengimbau industri menggunakan fasilitas LCT dari Bank Indonesia (BI). Untuk mengurangi beban mereka dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujar Febri.

Jika impor bahan baku dilakukan dengan skema LCT, kata Febri, beban pengusaha tidak akan membengkak. Hanya saja, penggunaan mata uang lokal perlu kesepakatan kedua belah pihak.

“Jadi pembelian bahan baku oleh industri, oleh importir yang memasok bahan baku ke industri, itu tidak menggunakan dolar, tapi menggunakan mata uang lokal,” jelas Febri.

Selain itu, pelaku industri juga diminta mulai mengubah sumber bahan baku impor dari negara lain guna mengurangi risiko gangguan rantai pasok global. Langkah ini dinilai penting di tengah ketidakpastian global, termasuk tensi di kawasan Selat Hormuz.

Tak hanya itu, Febri juga mendorong investor membangun fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri untuk menggantikan impor. Menurutnya, kondisi saat ini bisa menjadi momentum memperkuat industri substitusi impor di Indonesia.

0 Komentar