Kasus Dugaan Riset Palsu Rifaldy Fajar dan Prihantini dari Taiwan Mencuat di Denmark

Viral kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar (Threads/@mandharabrasika)
Viral kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar (Threads/@mandharabrasika)
0 Komentar

25 Mei 2026: Viral di Media Sosial

Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat mengungkap kasus ini ke publik melalui media sosial. Unggahan keduanya menyebar cepat. Publik menyoroti dugaan riset yang dibuat menggunakan AI atau fabrikasi data — abstrak penelitian dinilai terlalu “wah” tetapi presentasinya disebut sangat sederhana. Motif yang diduga kuat: perburuan travel grant untuk bisa menghadiri konferensi internasional secara gratis atas biaya penyelenggara.

Penelusuran warganet juga menemukan bahwa kelompok ini sebelumnya diduga telah mengikuti konferensi iCRS 2025, Outstanding Research Abstract Award di Kyoto, dan APASL STC 2025.

26–27 Mei 2026: Respons Institusi

Kasus ini bergerak cepat ke ranah resmi. UNY mengonfirmasi bahwa nama Rifaldy Fajar dan Prihantini tercatat dalam database alumni resmi kampus, keduanya sebagai lulusan Matematika. Pihak kampus berhasil menghubungi Prihantini, yang meminta maaf atas kegaduhan yang membawa nama UNY dan berjanji memberikan klarifikasi. Nomor telepon Rifaldy disebut sudah tidak aktif sejak lama.

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan pihaknya tengah mendalami kasus ini dan meminta publik mengedepankan kehati-hatian.

Ia menegaskan bahwa fabrikasi data dan penyalahgunaan afiliasi akademik tidak dapat dibenarkan. Berdasarkan informasi awal, para terduga pelaku tidak tercatat sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi maupun lembaga riset Indonesia — artinya mereka berstatus peneliti independen yang tidak berada di bawah pengawasan institusi manapun.

Respons Terduga Pelaku

Rifaldy Fajar menyatakan akan memberikan klarifikasi secara menyeluruh, namun meminta waktu untuk menyusunnya secara runtut.

Ia juga menyebut informasi yang beredar tidak sepenuhnya sesuai fakta. Rifaldy meminta publik menyikapi polemik ini dengan bijak dan tidak melakukan serangan personal.

Akun media sosial Rifaldy dan Prihantini dilaporkan tidak lagi dapat diakses publik setelah kasus ini viral. Akun Instagram Prihantini sebelumnya memuat dokumentasi perjalanan ke berbagai negara, termasuk Sapporo, Abu Dhabi, dan Zurich.

Mengapa Kasus Ini Penting

Kasus ini menyentuh persoalan yang lebih luas dari sekadar ulah individu. Sistem seleksi abstrak di banyak konferensi internasional bergantung pada kepercayaan dan tidak dirancang untuk mendeteksi fabrikasi data secara aktif. Ketika celah itu dieksploitasi secara sistematis — dengan identitas palsu, lembaga fiktif, dan data buatan AI — dampaknya bukan hanya pada reputasi individu, melainkan pada persepsi global terhadap seluruh komunitas riset Indonesia.

0 Komentar