Kasus Dugaan Riset Palsu Rifaldy Fajar dan Prihantini dari Taiwan Mencuat di Denmark

Viral kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar (Threads/@mandharabrasika)
Viral kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar (Threads/@mandharabrasika)
0 Komentar

NAMA Rifaldy Fajar dan Prihantini mendadak menjadi topik paling ramai diperbincangkan di media sosial Indonesia sejak Senin, 25 Mei 2026.

Keduanya disebut sebagai bagian dari kelompok peneliti yang diduga memalsukan riset secara terorganisasi di sejumlah konferensi ilmiah internasional. Berikut kronologi lengkap kasus ini dari awal hingga perkembangan terkini.

April 2025: Kejanggalan Pertama di Taiwan

Dugaan praktik serupa oleh kelompok yang sama sebenarnya sudah muncul jauh sebelum kasus ISPPD 2026 viral. Peneliti BRIN Oki Hidayat menyebut bahwa Rifaldy Fajar dan Prihantini diduga melakukan hal yang sama di konferensi Asian Raptor Research and Conservation Network di Taiwan pada April 2025.

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

Delegasi Indonesia yang hadir — termasuk peneliti dari IPB, Universitas Udayana, dan Raptor Indonesia — terkejut menemukan abstrak penelitian bertopik burung raptor yang nama penulisnya sama sekali tidak dikenal.

Poster yang dipajang pun tidak memenuhi standar panitia: dicetak dalam ukuran A4 bukan A0, ditempel dua lembar dengan isi identik, dan para penelitinya tidak pernah muncul untuk berdiskusi. Prof. Syartinilia Wijaya dari IPB University yang bidang risetnya bersinggungan langsung dengan topik poster itu menyatakan terkejut karena merasa topik tersebut belum pernah dikerjakan siapapun.

Kecurigaan muncul, tapi tidak sempat ditindaklanjuti secara resmi saat itu.

17–21 Mei 2026: Terbongkar di Kopenhagen

Kasus ini akhirnya meledak saat konferensi ISPPD 2026 — forum internasional bergengsi untuk para ahli pneumonia — berlangsung di Kopenhagen, Denmark. Sekelompok peneliti Indonesia diduga melakukan pemalsuan terorganisasi di depan ribuan ilmuwan dunia.

Wa Ode Dwi Daningrat, peneliti Indonesia di University of Oxford yang hadir di konferensi tersebut, menemukan langsung sejumlah kejanggalan. Lokasi penelitian yang diklaim mencakup belasan negara — dari Pegunungan Andes Peru hingga dataran tinggi Ethiopia dan Nepal — namun tanpa satu pun kolaborator lokal atau keterangan persetujuan etis.

Afiliasi yang digunakan, yakni AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation Jakarta, juga tidak ditemukan keberadaannya. Yang paling mencolok: salah satu terduga pelaku diduga berganti identitas hanya dengan mengganti jilbab dan nametag saat tampil dalam sesi presentasi berbeda.

0 Komentar