Simbol Kekaisaran Sasanian Dipakai Iran untuk Klaim Kemenangan Diplomasi atas Trump

Ilustrasi: Iran Amerika Serikat
Ilustrasi: Iran Amerika Serikat
0 Komentar

KETEGANGAN diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru yang unik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menggunakan narasi sejarah kuno untuk mengeklaim bahwa Teheran berada di posisi unggul dalam negosiasi dengan Presiden Donald Trump guna mengakhiri konflik yang berlangsung selama hampir tiga bulan.

Melalui platform media sosial X pada Minggu (24/5/2026), Baqaei mengunggah gambar situs arkeologi Iran yang menampilkan Kaisar Romawi Marcus Julius Philippus (Philip si Arab) berlutut di hadapan pemimpin Kekaisaran Sasanian Iran. Unggahan ini dianggap sebagai pesan simbolis bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan AS.

“Dalam pemikiran Romawi, Roma adalah pusat dunia yang tak terbantahkan. Namun, bangsa Iran menghancurkan ilusi itu,” tulis Baqaei. Ia merujuk pada perdamaian yang ditetapkan berdasarkan syarat-syarat Sasanian setelah kampanye militer Romawi gagal di Persia.

Sinyal Kesepakatan di Tengah Krisis Energi

Baca Juga:Luhut Minta Maaf ke Investor di Singapura soal Risiko Ekonomi RIFatah Pilih Komite Baru, Nama Marwan Barghouti hingga Yasser Abbas Mencuat

Pernyataan provokatif ini muncul di tengah laporan bahwa kedua belah pihak sebenarnya semakin dekat dengan kesepakatan. Pada Sabtu, Presiden Trump menyatakan bahwa kesepakatan sudah di depan mata. Laporan pada Minggu menyebutkan kedua negara menyetujui kerangka dasar, meskipun detail teknis masih memerlukan persetujuan akhir dari Pemimpin Tertinggi Iran dan Trump sendiri.

Poin utama dalam draf kesepakatan tersebut meliputi:

  • Pembukaan Kembali Selat Hormuz: Penutupan jalur ini telah memutus sekitar 20% pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi global.
  • Relaksasi Sanksi: AS dilaporkan akan memberikan keringanan sanksi ekonomi sebagai imbalan atas kepatuhan Iran.
  • Pengurangan Pengayaan Uranium: Iran setuju untuk membuang stok uranium yang diperkaya tinggi, meskipun kesepakatan ini dilaporkan tidak mencakup penghentian total pengayaan atau pembatasan pasokan rudal.

Analisis Strategis: Tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri perang meningkat seiring kekhawatiran Partai Republik terhadap pemilihan paruh waktu (midterm elections) musim gugur ini, terutama akibat dampak ekonomi dari meroketnya harga bahan bakar.

Kritik Internal dan Skeptisisme

Meski ada kemajuan, rencana ini mendapat penolakan keras dari internal AS. Mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyatakan skeptisismenya terhadap niat Iran. “Pengalaman dunia dengan negosiator Iran adalah mereka akan mengulur waktu dan mencoba menyeret proses ini,” ujar Pompeo dalam wawancara radio.

0 Komentar