Misteri 'Kerto-Widjojo' Satir Waterloo dalam Skandal Pemalsuan Sejarah Agraria Jawa 1859

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI
0 Komentar

BAGI para pembaca surat kabar kolonial Java-Bode edisi 27 April 1859, sebuah kalimat sarkas dalam kolom surat pembaca mendadak memicu kegemparan tersendiri. Penulis anonim kala itu melemparkan kalimat tajam: “…geheel juist, liever zou ik Mas Bei Kerto-Widjojo noemen met de speculanten op de velden van Waterloo…” (sepenuhnya tepat, saya lebih suka menyebut Mas Bei Kerto-Widjojo bersama para spekulan di padang Waterloo).

Sepintas, kombinasi nama priyayi Jawa feodal dengan medan perang legendaris di Belgia tersebut terdengar janggal. Namun, di balik analogi unik ini, tersembunyi sebuah kritik sosial yang merekam taktik manipulasi informasi di era puncak Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Alusi Waterloo: Industri Kebohongan Abad ke-19

Untuk memahami kedalaman sindiran tersebut, kita harus menengok apa yang terjadi di Eropa pasca-kekalahan Napoleon Bonaparte pada tahun 1815. Medan perang Waterloo di Belgia dengan cepat berubah menjadi magnet wisata sejarah bagi kaum borjuis Barat.

Baca Juga:SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC 4 Pilar MPR di KalbarBoeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk Arab

Peluang ini melahirkan fenomena speculanten op de velden van Waterloo (para spekulan di padang Waterloo). Mereka adalah penduduk lokal yang memalsukan relik perang—seperti memproduksi massal proyektil peluru tiruan, mengubur kancing baju tentara baru agar terlihat berkarat, hingga mengarang silsilah kepemilikan senjata palsu—demi memeras uang dari para turis asing yang naif. Di mata publik Eropa kala itu, “spekulan Waterloo” adalah sinonim mutlak bagi penipu, pemalsu sejarah, dan oportunis ulung. Siapa Sebenarnya “Mas Bei Kerto-Widjojo”?

Penelusuran lintas arsip resmi pemerintah kolonial, Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië serta Almanak Prijai sepanjang dekade 1850 hingga 1860, menunjukkan sebuah fakta mengejutkan: tidak ada pejabat riil bernama Mas Bei Kerto-Widjojo yang terdaftar aktif. Nama “Kerto Widjojo” baru resmi muncul di lembar birokrasi puluhan tahun kemudian, seperti Raden Kerto Widjojo yang menjabat sebagai Wedono Probolinggo pada tahun 1912.

Hal ini mengonfirmasi bahwa sosok “Mas Bei Kerto-Widjojo” pada tahun 1859 adalah sebuah karakter fiktif atau karikatur politik. Penulis Java-Bode sengaja merangkai nama yang terdengar sangat agung—Kerto(kemakmuran) dan Widjojo (kejayaan)—ditambah gelar kelas menengah Mas Ngabehi, justru untuk menciptakan kontras yang mematikan dengan kelakuannya yang korup.

0 Komentar