NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga menyentuh level Rp17.500-an per dolar AS (US$). Pada perdagangan Rabu (13/5), rupiah dibuka di posisi terlemah sepanjang sejarah RI, yakni Rp17.538/US$, sebelum akhirnya ditutup menguat tipis ke Rp17.476/US$.
Terkait pelemahan rupiah yang terus berlanjut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penjagaan stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI).
Namun demikian, Purbaya menyatakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tetap siap membantu bank sentral dari sisi kebijakan fiskal. “Ya, kalau itu, tanya ke bank sentral, ya. Mereka yang berwenang dan saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti,” ujar Purbaya di Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung), Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Purbaya meminta masyarakat tidak panik terhadap pelemahan rupiah dan dampaknya terhadap perekonomian nasional. Ia menegaskan kondisi saat ini berbeda jauh dibanding krisis moneter 1998.
“Enggak perlu panik, karena fondasi ekonomi kita bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulkan. Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi. Enggak akan jelek malah. Kita akan cari langkah yang tepat, dengan fondasi ekonomi kuat, enggak akan terlalu susah, sepertinya,” jelas dia.
Sebelumnya, Purbaya juga menyatakan kesiapannya jika dipanggil DPR RI untuk memberikan penjelasan terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS. “(Kalau dipanggil) Iya kita siap,” ujarnya.
Ia menjelaskan, stabilitas nilai tukar rupiah pada dasarnya merupakan kewenangan Bank Indonesia. Namun, jika diminta memberikan penjelasan, ia menyatakan siap hadir.
“Tapi saya siap. Kalau saya kan pasif di situ, urusan bank sentral saja yang menjelaskan kenapa. Karena tugas bank sentral hanya satu menurut undang-undang kan, menjaga stabilitas nilai. Bukan yang lain,” jelas dia.
Sedangkan, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman mengatakan, pelemahan rupiah yang terlalu lama, berpotensi memicu imported inflation. Alasannya, Indonesia masih bergantung kepada impor pangan, energi dan bahan baku industri.
