Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Purbaya Jamin Tak Akan Terulang Krisis 1998

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
0 Komentar

Menurut Rizal, tekanan paling terasa akan muncul pada harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biaya hidup harian masyarakat. “Pelemahan rupiah hingga Rp17.500 per dolar AS akan menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Karena, Indonesia masih sangat bergantung kepada impor pangan, energi dan bahan baku industri,” ujar Riza, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Rizal menjelaskan, kondisi tersebut berbahaya karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Artinya, ketika daya beli masyarakat melemah, pertumbuhan ekonomi juga ikut terancam melambat. Rizal menilai kelompok menengah dan bawah menjadi yang paling rentan karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga masih didominasi kebutuhan pokok, sementara biaya transportasi, cicilan, dan utilitas terus meningkat di tengah pendapatan riil yang tidak tumbuh secepat inflasi.

Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

“Risiko inflasi cukup besar karena depresiasi rupiah memicu imported inflation, terutama pada BBM, LPG, pangan impor, obat-obatan, dan bahan baku industri,” katanya.

0 Komentar