TERSANGKA kasus dugaan pelecehan seksual terhadap santri Syekh Ahmad Al Misry (SAM) disebutkan memiliki kewarganegaraan ganda. Dia diduga tengah berupaya melepas status warga negara Indonesia (WNI).
Sekretaris NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri, Brigjen Untung Widyatmoko, menjelaskan saat ini SAM terdeteksi berada di Mesir. Namun, hingga kini otoritas Mesir belum memberikan jawaban resmi terkait permintaan Polri untuk memeriksa tersangka sesuai permohonan penyidik Direktorat Tindak Pidana PPA dan PPO Bareskrim Polri.
“Bahwa SAM masih berada di Mesir. Hingga hari ini pihak otoritas Mesir belum memberikan jawaban secara resmi tentang permintaan kami untuk mengakomodir pemeriksaan terhadap yang bersangkutan,” kata Untung kepada wartawan, Rabu (13/5/2026).
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Untung membeberkan Syekh Ahmad Al Misry mengantongi dua kewarganegaraan, yakni Indonesia dan Mesir. Syekh Ahmad Al Misry diduga mencoba melakukan siasat hukum dengan melepaskan status kewarganegaraan Indonesia-nya.
“Secara resmi KBRI Cairo telah berkomunikasi dengan saya pada pukul 11.00 WIB tentang upaya pelepasan kewarganegaraan Indonesia dari SAM,” ungkapnya.
Upaya pelepasan status WNI ini disebut merupakan keinginan tersangka. Jika status WNI tersebut lepas, SAM akan memiliki status kewarganegaraan tunggal Mesir dan memperoleh asas perlindungan warga negara dari pemerintah setempat.
“Upaya tersangka. Dengan melepas status ke-WNI-annya, tentu dia hanya memiliki single status dan memperoleh asas perlindungan kewarganegaraannya dari Mesir,” jelas Untung.
Menurut Untung, hal ini akan mempersulit langkah Polri. Pasalnya, pengajuan Interpol Red Notice terhadap Syekh Ahmad Al Misry saat ini masih berbasis pada statusnya sebagai WNI.
“Nah ini yang menarik, tentunya akan menyulitkan kami karena pengajuan Interpol Red Notice terhadap yang bersangkutan masih status WNI,” sebut Untung.
Selain itu, lanjut dia, perubahan status kewarganegaraan tersebut akan mengubah jalur kerja sama internasional. Jika SAM tetap menjadi WNI, Polri bisa menempuh jalur Police to Police (P to P) Cooperation untuk proses deportasi yang relatif singkat dan mudah.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
“Sehingga tentunya upaya yang dilakukan harus menempuh jalur ekstradisi yang panjang dan lama. Tidak bisa melalui P to P Cooperation,” jelas Untung.
