PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 13 hingga 15 Mei mendatang atas undangan Presiden China Xi Jinping.
Kunjungan tersebut diumumkan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Senin (11/5/2026). Lawatan Trump ke Beijing berlangsung di tengah meningkatnya dinamika hubungan kedua negara dalam sejumlah isu strategis, mulai dari perdagangan, teknologi, keamanan kawasan Indo-Pasifik, hingga persaingangeopolitik global.
Pemerintah China belum merinci agenda resmi pertemuan kedua pemimpin. Namun sejumlah pengamat menilai kunjungan itu berpotensi menjadi momentum penting dalam menentukan arah hubungan Washington-Beijing di tengah ketegangan yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran
Hubungan AS dan China sebelumnya diwarnai berbagai kebijakan tarif, pembatasan teknologi, rivalitas di Laut China Selatan, serta persaingan pengaruh dalam industri strategis global.
Trump dalam beberapa bulan terakhir juga memperkeras retorika terhadap Beijing, termasuk terkait perdagangan dan keamanan nasional AS. Sementara China berulang kali menyerukan stabilitas hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi kedua negara.
Kunjungan tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu pertemuan diplomatik paling disorot tahun ini mengingat posisi AS dan China sebagai dua kekuatan ekonomi dan geopolitik terbesar dunia.
Rebutan Pengaruh
Amerika Serikat dan China kini terlibat dalam persaingan geopolitik terbesar abad ke-21 yang mencakup perdagangan, teknologi, militer, energi, hingga perebutan pengaruh global. Washington melihat kebangkitan Beijing sebagai tantangan langsung terhadap dominasi AS pasca-Perang Dingin, sementara China berupaya memperluas pengaruhnya sebagai kekuatan dunia baru melalui ekonomi, infrastruktur, dan modernisasi militer.
Persaingan kedua negara terlihat kuat di kawasan Indo-Pasifik, terutama di Laut China Selatan dan sekitar Taiwan. AS memperkuat aliansi keamanan dengan Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Australia untuk menahan ekspansi pengaruh China. Di sisi lain, Beijing memperbesar kekuatan militernya, membangun pangkalan strategis, memperluas armada laut, dan mendorong proyek Belt and Road Initiative untuk memperkuat pengaruh ekonomi-politik di Asia, Afrika, Timur Tengah, hingga Amerika Latin.
Rivalitas itu juga meluas ke teknologi dan rantai pasok global, termasuk kecerdasan buatan, semikonduktor, energi hijau, dan luar angkasa. Kedua negara kini tidak hanya bersaing soal kekuatan ekonomi, tetapi juga tentang siapa yang akan menentukan aturan, teknologi, dan arah tatanan dunia di masa depan.
