Trump ke China Temui Xi Jinping: Akhir dari Perang Dagang atau Mulai Babak Baru Rivalitas?

Donald Trump dan Xi Jinping (Foto: Nicolas Asfouri/Ritzau Scanpix)
Donald Trump dan Xi Jinping (Foto: Nicolas Asfouri/Ritzau Scanpix)
0 Komentar

Dalam beberapa bulan terakhir, pejabat AS dan sejumlah perusahaan teknologi Amerika menyoroti dugaan penggunaan model open-source Barat, akses terhadap riset AI global, hingga pemanfaatan chip dan pusat data berbasis teknologi AS oleh perusahaan China untuk mengembangkan mesin AI mereka sendiri.

Washington juga khawatir teknologi AI China dapat digunakan untuk: pengawasan massal,

penguatan militer, operasi siber, hingga dominasi industri masa depan.

Karena itu, pemerintah AS memperketat pembatasan ekspor chip canggih dan teknologi semikonduktor ke China. Perusahaan seperti NVIDIA dan AMD dibatasi menjual chip AI kelas tinggi ke pasar China.

Baca Juga:Boeing KC-135 Stratotanker 'Pom Bensin Terbang' Militer AS Hilang Sinyal di Teluk ArabSaad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

AS juga menekan sekutu-sekutunya, termasuk Belanda dan Jepang, agar membatasi ekspor mesin litografi dan teknologi produksi chip ke China. Langkah itu ditujukan untuk memperlambat kemampuan Beijing memproduksi semikonduktor mutakhir secara mandiri.

Sebagai respons, China mempercepat strategi kemandirian teknologi nasional. Pemerintah Beijing menggelontorkan investasi besar untuk membangun industri chip domestik, pusat komputasi AI, dan pengembangan sistem operasi serta perangkat lunak mandiri.

Perusahaan-perusahaan teknologi China seperti Huawei, Alibaba Group, dan Baidu juga mempercepat pengembangan model AI lokal untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat.

Persaingan kedua negara tidak hanya terjadi dalam AI dan chip, tetapi juga: jaringan 5G,

kendaraan listrik, satelit, komputasi kuantum, robotika, hingga teknologi luar angkasa.

AS sebelumnya menuduh Huawei memiliki hubungan dekat dengan pemerintah dan militer China sehingga berpotensi digunakan untuk spionase global. Tuduhan itu memicu pembatasan besar terhadap penggunaan perangkat Huawei di berbagai negara Barat.

Di sisi lain, Beijing menilai langkah Washington sebagai upaya menahan kebangkitan teknologi China dan mempertahankan dominasi global AS.

Persaingan teknologi kini dipandang sebagai inti rivalitas geopolitik abad ke-21. Penguasaan AI, semikonduktor, dan data dinilai akan menentukan: kekuatan ekonomi, kapasitas militer, keamanan nasional, serta pengaruh global suatu negara di masa depan.

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Karena itu, hubungan AS-China saat ini tidak lagi sekadar kompetisi perdagangan, tetapi perebutan kepemimpinan teknologi dunia.

0 Komentar